Yakin

Sewaktu kelas XII SMA, di suatu hari pertama pelaksanaan ujian tengah semester eh atau ujian akhir semester, entahlah saya agak lupa. Singkatnya hari itu saya terlambat datang ke sekolah dan lupa kalau hari itu ujiannya menggunakan lembar jawaban komputer, sehingga saya tidak membawa pensil 2B yang diperlukan untuk mengisi lembar jawaban ujian. Sialnya saya baru menyadari hal itu setelah duduk di dalam ruang ujian.

Kondisi saat saya masuk kelas sudah cukup agak kacau, karena ujian sudah berlangsung lalu saya dan beberapa siswa lain yang juga terlambat masuk sehingga timbul sedikit kegaduhan dan mungkin memecah konsentrasi mereka. Saya jadi merasa tidak enak sih, jadi waktu sadar tidak membawa pensil saya tidak berusaha meminjam ke siswa yang sedang mengerjakan ujian, saya ga mau ganggu konsentrasi mereka. Saya coba meminjam ke siswa yang sama-sama terlambat, tapi mereka semua mengatakan cuma membawa 1 pensil saja.

Saya sempat terpikir mau pinjam ke guru penjaga, tapi kemudian membayangkan dimarahi lalu membuat seisi kelas jadi gaduh membuat saya mengurungkan niat. Mending kalau kemudian gurunya punya pensil, kalau tidak ya cuma bakal buang waktu, bagi saya ataupun siswa lain yang juga terganggu.

Akhirnya, entah paginya saya makan apa sampai bisa muncul keyakinan untuk mengisi lembar jawabannya menggunakan bolpen.

Logika saya begini : Saya sering mendengar bahwa kalau mengisi lembar jawaban komputer harus tebal dan benar-benar hitam, karena kalau tipis nanti tidak terbaca dan dianggap tidak ada jawabannya. Nah kalau pakai bolpen kan lebih hitam dari pensil, maka seharusnya saat diperiksa nanti akan tetap terbaca. Diperiksanya setahu saya menggunakan alat seperti scanner kan. Harusnya dengan bolpen akan lebih jelas, hanya saja saya jadi tidak bisa mengganti jawaban karena tidak bisa dihapus.

Sekilas tampak benar, maka selama waktu yang tersisa dengan yakin saya mengerjakan soal ujian sampai selesai menggunakan bolpen.

Ujian selesai. Waktunya jam istirahat. Lalu tidak lama kemudian nama saya dipanggil lewat speaker sekolah, diminta untuk segera datang ke ruang guru. Rupanya saya dipanggil gara-gara lembar jawaban komputer yang saya tulis pakai bolpen itu lalu saya diminta untuk menyalin jawaban saya sebelumnya ke lembar jawaban baru menggunakan pensil 2B yang mereka pinjami.

Guru saya ga marah sih, malah sepertinya mereka terlihat prihatin. Kok ya cantik-cantik tapi error. Yang setuju saya cantik cuma saya, tapi yang setuju saya error banyak hahahalupakan.

Jadi mungkin kamu ini seperti bolpen. Saya yakin bisa dengan bolpen tapi sepertinya keyakinan saya ini hanya berdasarkan pembenaran-pembenaran tak masuk akal.
Yasudah saya cari pensil 2B saja.
#apasih

Sh*t Story

Sekali atau dua kali terkadang saya kita terpaksa untuk pup di kantor. But..
..one does not simply about pup di kantor saya adalah soal pengairannya.

Pengairan di kantor saya konvensional sih, seperti yang banyak diterapkan di mall atau bangunan besar lainnya. Jadi air dari kran PDAM di bawah / sumur / sumber air apapun yang biasanya selalu ada di bawah di pompa ke tandon air yang diletakkan di atas gedung. Kemudian melalui pipa-pipa, air tersebut akan dialirkan menuju keran air atau toilet-toilet yang ada di bawahnya hanya dengan mengandalkan gaya gravitasi.

Jika toiletnya cuma ada satu atau yang sedang pup hanya kamu, maka pengairan konvensional seperti itu tidak akan menjadi masalah. Namun tentu saja, di bangunan sebesar kantor, tidak mungkin toilet hanya ada satu dan tidak ada yang bisa menjamin tak terjadi pup secara bersamaan antar toilet.

Satu kemungkinan buruk yang tidak diinginkan namun sering terjadi adalah saat kamu selesai pup, pencet tombol flush tapi airnya ga keluar lantaran di bilik toilet lain ada yang flush lebih dulu atau keran air lain banyak yang sedang dibuka sehingga tekanan air untuk flush kurang dan t*i-nya ga bisa hilang dengan sempurna.

Kadang saya kebetulan mengalami hal ini, 
Lalu sebel pup-nya ga ilang-ilang, 
Lalu dengan kesal bilang "Akh, t*i lu!"
Lalu ngakak sendiri di toilet.

Yagimana, ngatain t*i ke yang emang t*i...



Hari Pertama Puasa : Semangat VS Lemes

"Hari pertama puasa kok semangat amat sih?"

Ini pertanyaan yang aneh, sebab justru karena baru hari pertama itulah kenapa kita jadi masih semangat.

Saya sering dengar beberapa orang mengatakan dan bahkan kadang juga ikut me-iya-kan (disinilah begonya saya, makanya akhirnya bikin tulisan ini buat reminder) kalau biasanya bakalan lemes pas hari pertama puasa ramadhan. Alasannya sih karena masih kaget, belum penyesuaian setelah lama tidak puasa.

Tapi dari pengalaman pribadi saya sejauh ini justru hari pertama itulah puasa ramadhan yang paling semangat. Alasannya pertama karena kita masih excited, kedua karena badan kita masih punya banyak cadangan makanan dari hari-hari kemarin saat tidak puasa. Nah makin lama cadangan makanan di badan kan makin habis, jam tidur juga makin kurang biasanya, ini yang bikin makin lama makin lemes.

Udah kayak jatuh cinta gitu. Saat awal-awal berbunga-bunga banget karena masih excited dan stok cintanya masih banyak, lama-kelamaan bisa bosen dan stok cintanya abis karena ga pernah dikasih perhatian.

Yaa setidaknya itu yang saya rasain sih
Kalau menurut kamu?