2016

Hari ketiga bulan pertama tahun 2017. 

Tahun 2016 sudah berlalu. Banyak netizan (utamanya twitter, yang saya tahu dengan pasti) yang menggambarkan 2016 sebagai tahun yang sangat kejam. Well, saya sangat setuju.

Saya memasuki tahun 2016 dengan cukup berantakan dan tanpa persiapan apapun. Tidak ada rencana yang cukup jelas dan ambisi yang cukup untuk memenuhinya. Hmm mungkin dari awal saya sudah merasa 2016 akan tidak seperti apapun yang saya inginkan.

1. Awal tahun dibuka dengan wacana mengenai kepindahan Engineer Unyu ke kantor baru yang ada di Mojokerto. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena ini berarti saya ga akan bisa ketemu tiap hari. Suram.

2. Hadiah dari Huda Tula akhirnya sampai. Teman lama saya di dunia per-blogger-an ini akhirnya berhasil menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Malam Merunjung. Saya senang sekali. Kalau kalian mau baca juga silakan beli disini. Sebenarnya saya bermaksud menulis review mengenai novel tersebut, bahkan sampai udah izin segala sama mas Huda, tapi malah ga kesampaian sampai sekarang. 

3. Sekitar bulan Maret, hal yang saya khawatirkan terjadi. Engineer Unyu dipindah ke kantor Mojokerto. Yang dulu bisa ketemu tiap hari, maka sekarang ketemu sebulan sekali pun belum tentu. Hei, ini bukan gara-gara kamu yang mendoakan kan?

4. Bulan Mei terjadi banyak hal yang menyedihkan hati, sampai-sampai saya buat postingan khusus mengenai itu. Silakan baca disini.

5. Banyaknya hal tak mengenakkan hati di bulan Mei ini saya pikir sudah yang paling buruk, tapi ternyata ini masih hanya intro. Tuhan memang sangat pengertian sepertinya, itu sebabnya Dia memberikan pemanasan dulu sebelum memberikan yang lebih kemudian. Bulan Juli, Ibu saya tercinta meninggal, tepat sehari sebelum hari raya. Padahal saya, walau hanya sederhana, sudah membeli baju untuk beliau. Entah kenapa lebaran itu saya sangat ingin sekali bisa berfoto bersama sekeluarga, yang biasanya jarang kami lakukan, tapi ternyata tidak bisa terlaksana. Tak perlu saya jelaskan lagi bagaimana kehilangannya saya.

6. Tidak sampai 100 hari sejak kepergian ibu, ternyata tante saya pun menyusul. Padahal beliau lah yang sudah sangat banyak membantu untuk merawat ibu saya saat terkena stroke. Beliau dulu juga membantu mengasuh saya dan kakak-kakak saya. Beliau sudah seperti ibu saya sendiri. Tidak pernah sebelumnya saya kehilangan anggota keluarga yang saya cintai dalam waktu yang sangat berdekatan seperti ini, dan semoga tak akan pernah lagi.

7. Belum resmi diubah, tapi setelah ini, kartu keluarga hanya akan berisi nama saya seorang sebagai penghuni.

8. Kabar baik di akhir tahun. Partner in crime saya yang dulu tidak diperpanjang kontraknya, kini kembali bekerja di kantor. Sayangnya sekarang dia ditempatkan di kantor Mojokerto, sehingga kami tetap tidak akan bisa bermain bekerja bersama seperti dulu lagi.

9. Omong-omong, saya mulai kuliah. Sewaktu memandikan jenazah ibu saya, Mudinnya sempat bilang bahwa ibu saya ini, yang masih membuat beliau agak berat untuk meninggalkan dunia hanyalah pikiran mengenai saya yang belum menikah. Lalu ujung-ujungnya saya disuruh agar segera menikah. Agak absurd memang. But since i don't have someone special yang berpotensi ngajak nikah, saya bertekad, nikah ga nikah saya harus bisa jadi orang sukses yang bisa hidup mandiri dengan baik dan tidak kekurangan, kuat serta mampu menjaga diri sendiri sehingga ibu saya bisa tenang di alam kubur walau saya belum menikah. Dan langkah pertama untuk hal ini, saya putuskan, adalah dengan kuliah. 

10. Diluar dugaan ternyata kemudian ada 3 orang yang ngajak saya nikah, tapi semuanya ZONK! Orang pertama adalah yang paling absurd. Suatu malam tiba-tiba saya dipanggil, lalu dia bercerita bahwa dia mewarisi harta yang sangat banyak dari leluhurnya, namun syarat untuk menerima warisan tersebut adalah dia harus menikah terlebih dahulu, lalu dia bertanya apakah saya bersedia. Dia mengatakan saya bisa mengajukan syarat apapun, rumah, mobil atau apapun dan nanti akan dia penuhi. Sekilas sempat terpikir supaya minta syarat dibuatkan seribu candi dalam semalam ala-ala Roro Jonggrang, pemikiran yang didasari sedikit ingin tahu dan banyak naluri dagelan. But NO. Skenario macam apa ini? Dari segi manapun saya tidak mau menikah dengan alasan seperti ini. Tidak dengan syarat apapun. Situasi saat itu sangat tidak mengenakkan, kalau tidak bisa disebut menakutkan, karena saya hanya sendiri dan berada di tempat mereka, lalu karena tidak dapat menemukan cara penolakan yang lebih sopan maka saya terpaksa berbohong bahwa saya sudah punya pacar dan langsung buru-buru kembali ke rumah. Saya luar biasa shock waktu itu dan mendadak saya menyadari, mungkin inilah alasan ibu ingin saya segera menikah. Rupanya tidak mudah menjadi wanita. Lalu mengenai orang kedua dan ketiga, mereka ngajak nikahnya lewat BBM. Apa-apaan coba orang-orang ini??? Entah kenapa saya merasa semua ini seperti penghinaan. Hhhh.

11. Saya akhirnya akan bisa menamatkan Taiko. Dulu sepertinya sudah pernah tamat, tapi ada jilid yang ga kebaca lantaran di perpus ga ada. Fyi, dulu yang saya baca adalah yang versi buku kecil yang terbagi menjadi 10 jilid, kali ini yang saya baca adalah yang versi full, tebalnya 1000 halaman lebih. Sekarang sudah masuk buku ke-10, yang terakhir. Kalau tidak ada halangan rasanya besok atau lusa sudah akan bisa tamat, hehe.

12. Saat ini semakin jelas bahwa beberapa orang kantor sudah mengetahui keberadaan blog ini. Sebenarnya dari tahun lalu pun saya sudah merasa ketahuan, hanya saja tahun ini ada 2 orang yang langsung menyatakan bahwa dirinya mengetahui blog ini, tanpa saya perlu menduga-duga. Tidak ada yang salah dengan blog ini maupun isinya bila diketahui siapapun, dan ini bukan semata-mata karena orang kantor atau bukan. Hanya saja ada beberapa orang yang saya tidak inginkan mereka tahu blog ini. Karena apa? Karena pemahaman manusia itu terbatas dan saya kadang malas untuk menjelaskan segala sesuatunya kepada semua orang. Tidak tahu akan lebih baik daripada pemahaman setengah-setengah yang didasari pemikiran sempit. Saya mulai terpikir untuk segera menutup blog ini, tapi mengingat masih ada beberapa tanggungan pribadi, hal itu masih saya pertimbangkan lebih lanjut. Entahlah.

Sesungguhnya masih banyak yang ingin saya tulis dan tambahkan disini, tapi sayangnya saya lupa haha. Baiklah, mari kita akhiri saja, semoga mulai hari ini sampai dengan selanjutnya kebahagiaan dan keberuntungan selalu menyertai kita.

Hari ketiga bulan pertama tahun 2017.

MAMA

Sebenarnya saya mau membuat tulisan ini menjadi tulisan yang megah, indah dan penuh makna untuk beliau, tapi berhubung yang nulis adalah cuma penulis payah seperti saya, mungkin itu akan sulit diwujudkan.

Tulisan ini saya persembahkan untuk Ibu saya, biasa saya panggil mama, yang meninggal tanggal 5 Juli 2016, tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Beliau lahir pada tanggal 11 November 1963 di Kota Palembang dari Ayah seorang pedagang dan Ibu seorang guru. Namun kedua orang tuanya berpisah saat usia mama masih sangat muda, sehingga pada usia 2 atau 3 tahun ibunya menikah kembali dengan seorang tukang masak (koki) masakan Padang. Beberapa tahun kemudian, saat ibunya sedang mengandung anak ke-3 dari Ayah tirinya, mereka sekeluarga pindah ke Surabaya. Ayah tirinya kemudian menjadi tukang masak no. 1 di rumah makan masakan Padang ternama di Surabaya pada masa itu.

Mama kemudian tumbuh remaja bersama 2 kakak laki-laki yang dibawa Ayah tirinya dari pernikahan sebelumnya dan 3 orang adik, 2 perempuan dan 1 laki-laki, dari pernikahan ibu kandung dan Ayah tirinya.

Menginjak kelas 3 SMA beliau kemudian memutuskan untuk menikah dengan gurunya sewaktu SMP dulu, orang inilah yang kemudian menjadi bapakku, dan aku memanggilnya papa.

Berbeda dari prasangkaan banyak orang, mama menikah di usia yang sangat muda, bahkan saat masih sekolah, bukanlah karena hamil duluan atau dipaksa orang tua macam Siti Nurbaya. Namun apa alasan pastinya saya juga kurang tahu, kemungkinan besar adalah karena mama ingin segera dapat hidup sendiri tanpa merepotkan orang tua lagi.

Iya, mama adalah orang yang tidak suka merepotkan orang lain. Mungkin itu sebabnya yang kemudian juga membuat beliau menjadi orang yang serba bisa. Beliau orang paling serba bisa yang saya kenal. Beliau bisa masak aneka masakan, mulai dari masakan padang, masakan jawa dan aneka masakan nusantara dan masakan untuk acara-acara spesial lainnya. Beliau juga bisa menjahit, dulu setiap kali lebaran saya akan dijahitkan beberapa baju yang kadang lucu kadang eksentrik.

Kehidupan mama memang tidak se-menderita orang-orang yang biasa muncul di acara reality show, tapi bisa saya katakan kehidupan mama penuh dengan pengorbanan dan perjuangan yang tidak mudah. 

Mama di mata saya, adalah orang yang sabar. Beliau juga lucu dan berpandangan terbuka.

Kepergian beliau adalah suatu kehilangan besar, mungkin yang terbesar sepanjang hidup saya sampai saat ini.

Satu hal yang paling menyesakkan dari kepergian beliau adalah bahwa saya belum cukup melakukan banyak hal untuk membahagiakan beliau, malah mungkin justru saya banyak membebani dan menyakiti beliau, baik fisik maupun pikiran.  

Seusai pemakaman, ada seseorang yang mencoba menghibur dengan mengatakan, sudah jangan sedih dan ditangisi paling tidak kan kalian sudah merawatnya saat sakitnya sebelum meninggal. Dan saya seperti pengen nyolot, merawat apaan semua itu masih belum cukup baik dibanding perawatan yang beliau berikan kepada kami! Bagaimana kami bisa berhenti bersedih dan menganggap semuanya seakan sudah impas. Tidak. Tidak bisa. Bahkan sampai terakhir sebelum beliau jatuh sakit, beliau masih menyuapi saya sarapan dengan telaten karena saya buru-buru, sedang saya menyuapi beliau seringkali dengan ogah-ogahan saat beliau sakit. Saya tidak terima!

Semalam saya mengganti sprei kasur tempat kami biasanya tidur bersama, baru saya sadari, ternyata sprei dan sarung bantal yang kami miliki sudah sangat usang, ternyata memberikan kebahagiaan sesederhana membelikan sprei baru saat beliau masih hidup pun saya tidak mampu.

Lalu saya teringat mimpi yang saya dapat beberapa waktu sebelum beliau meninggal. Dalam mimpi itu beliau meminta saya untuk mengantarkannya pulang, dan saya seperti biasa selalu ogah-ogahan dengan alasan masih capek. Sial, bahkan dalam mimpi pun saya gagal membahagiakan beliau.

Dasar bodoh kamu yen.

Ternyata benar daripada disebut tulisan yang megah dan penuh makna, entry ini jadi lebih seperti catatan penyesalan saya. Sekarang satu-satunya keinginan saya untuk beliau adalah agar beliau dapat bahagia setelah kematiannya. Bahagia sebahagia-bahagianya. Bila perlu akan saya bagi jatah bahagia saya kelak jika saya memilikinya, karena mungkin itupun masih akan kurang.

Kau tahu, yang paling menakutkan di dunia ini bukanlah kematian, melainkan penyesalan.

Akhir-Akhir Ini

Akhir-akhir ini rasanya saya menjadi orang yang semakin mudah marah. Well, frasa 'akhir-akhir ini' bukan dimaksudkan cuma sehari atau dua hari, seminggu atau dua minggu. Yaaa kira-kira hitungan bulan lah. 

Saya juga ga ngerti kenapa. 

Apa karena memang persoalan hidup yang semakin banyak dan sulit dijalani atau karena saya yang sudah semakin menjadi tua dan menyebalkan?

Hmm mungkin yang terakhir lebih pas.