Dengarkan Yang Tidak Kukatakan


Saya menemukan quote ini dalam sebuah buku berjudul 7 habit of Highly Effective Teens, yang dibelikan oleh kakak saya saat saya masih duduk di bangku SMP, kalau tidak salah kelas 3 SMP. Quote ini bisa dibilang, salah satu quote favorit saya. Apa alasannya? Monggo dibaca dulu... 

Tolong...Dengarkan apa yang tidak kuucapkan

Jangan terkecoh olehku. Jangan terkecoh oleh topeng yang kupakai. Karena aku memakai topeng, aku memakai seribu topeng, topeng yang takut kulepaskan, yang tidak satupun adalah diriku. pura-pura adalah seni yang jadi sifat kedua bagiku, tetapi jangan terkecoh deh.
...Aku memberi kesan bahwa aku tenteram, bahwa semuanya beres, baik didalam lingkunganku; bahwa kepercayaan diriku adalah ciri-ciriku dan sikap tenang adalah kebiasaanku; bahwa perairannya tenang dan bahwa akulah yang memegang kendali dan aku tidak butuh siapapun. tetapi jangan percaya deh; kumohon.
Aku ngobrol denganmu dengan nada basa-basi. aku katakan segalanya yang sebenarnya tidak ada artinya, yang sama sekali lain dari pada seruan hatiku.Jadi, kalau aku sedang berceloteh, jangan terkecoh oleh apa yang kuucapkan. Tolong dengarkan dengan seksama dan berusahalah mendengar apa yang tidak kuucapkan; apa yang ingin dapat kuucapkan; apa, demi keselamatan, yang perlu kuucapkan tetapi tidak bisa. aku tidak suka bersembunyi. sejujurnya lho. aku tidak suka permainan basa-basi yang kumainkan ini.
Sebenarnya aku ingin tulus, spontan, dan menjadi diriku sendiri; tetapi kamu harus menolong aku. kemu harus menolong aku dengan mengulurkan tanganmu, sekalipun kelihatannya aku tidak menginginkannya atau membutuhkannya. setiap kali kamu bersikap baik serta lembut dan memberikan dorongan, setiap kali kamu berusaha mengerti karena kamu sungguh peduli, hatiku bersayap. Sayap kecil sih. Sayap lemah sih. Tetapi pokoknya bersayap. Dengan kepekaanmu dan simpatimu serta daya pengertianmu, aku bisa menanggung semuanya. kamu bisa menghembuskan nafas kehidupan ke dalam diriku. Pasti tidak mudah bagimu. Keyakinan akan ketidakberhargaan yang sudah lama pasti membangun dinding yang kuat. Tetapi kasih itu lebih kuat dari pada dinding yang kuat, dan disanalah letaknya pengharapanku. Tolong usahakan untuk merubuhkan dinding itu dengan tangan-tangan yang kokoh, tetapi lembut, karena seorang anak itu peka, dan aku ini anak-anak.
Siapa sih aku, mungkin kamu bertanya-tanya. Karena aku adalah setiap pria, setiap wanita, setiap anak-anak...setiap manusia yang kamu temui.

(Taken from The 7 habits of Highly Effective Teens, page 245)




Pada awalnya saya tertambat pada quote ini dikarenakan judulnya 'Dengarkan yang tidak kukatakan'. Semua itu dikarenakan pengalaman hidup yang saya alami, selama 15 tahun pada saat itu, sudah cukup menyadarkan saya bahwa tidak semua yang dikatakan seseorang itu adalah apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh seseorang itu. Hal ini tidak selalu berarti bahwa orang itu bohong, tapi bukan berarti orang itu tidak bohong juga. Masing-masing berbeda menurut caranya. Sejauh ini saya menemukan 3 pola :
  1. Mengatakan hal yang serupa tapi sebenarnya bukan itu yang dimaksud.
  2. Mengatakan sebagian kebenaran tapi lalu menambahkan ketidakbenaran sehingga memburamkan maksud yang sebenarnya.
  3. Mengatakan hal yang berkebalikan dengan yang sebenarnya.
Namun setelah membaca keseluruhan dari 'Tolong.. Dengarkan yang tidak kukatakan', ternyata ya memang benar juga. Zaman sekarang ini sulit sekali menemukan seseorang yang tidak seperti yang digambarkan disitu. Yah mungkin tidak semuanya mengambil posisi yang lemah seperti itu, tapi soal topeng, basa-basi, dan ketidaksesuaian antara apa yang dikatakan dengan yang dimaksudkan hampir pasti selalu ada.


Anda bisa menyebut saya sinis atau apa, tapi memang itulah kenyataannya, sejauh yang saya tahu.


Menurut hasil studi yang diadakan Profesor Albert Mehrabiany dari UCLA, bahwasebenarnya kata-kata hanya mewakili 7% saja dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan seseorang. Sisanya 38% diwakili intonasi suara dan 55% diwakili oleh bahasa tubuh. Hal ini semakin menguatkan teori bahwa kata-kata saja sulit untuk dapat dipercaya.


Padahal ada peribahasa "Kerbau dipegang tali hidungnya, manusia dipegang pada mulutnya". Yang dimaksudkan dengan mulut disini ialah perkataan yang diucapkan oleh mulut itu. Jadi, apa yang sudah kita katakan itulah yang akan dipegang orang.


Manusia yang dipegang mulutnya(perkataannya), tapi pada kenyataannya perkataan manusia hanya mewakili 7% dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Saat perkataan manusia sudah tak bisa lagi dipegang, lalu bagaimana? 


13 Responses so far.

  1. um ... boleh juga tuh
    so, semangat yah ... jaga semangat tetep konsisten hingga ga berhenti ngeblog di tengah jalan :)

  2. YeN says:

    Makasih komentar perdana nya
    hehehe :p

  3. YeN says:

    Amin Semoga bisa tetep nge-blog seterusnya :D

  4. ThunkART says:

    kepanjang'en tulisanx ... T_T
    xixixixixixixixi ... :p

    tapi bagus kok ,,, ;)

  5. jangan lupa besok minggu kopdar :D

  6. YeN says:

    jadi dimana emangnya?

  7. di Delta Plasa JCo deket gramed lantai 2 abis dhuhur kira2 jam 1

  8. YeN says:

    @thunk: makasih.. :)
    @jon: sayang aku ga bs ikutan.. huhu

  9. kacho says:

    Keseluruhan.....
    :p

  10. blognya saya follow ya mbak :)

  11. YeN says:

    wah, di baca sampe sini..
    makasih ya :)

    ok.ntar aku folback

  12. YeN says:

    wah, pernah mengalami ya?

Leave a Reply