Meninggalkan dan Ditinggalkan

Sering dalam hati saya terlintas pertanyaan, mending mana sih meninggalkan atau ditinggalkan?
Mungkin sama seringnya juga dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan seperti, mending mana mencintai atau dicintai? melukai atau dilukai? dan yang lain semacam itu.

Pernah disuatu titik di kehidupan ini, mungkin beberapa kali juga sih, saya berpikir bahwa saya mending ditinggalkan daripada meninggalkan. Saya tahu bagaimana rasanya meninggalkan dan ditinggalkan. Sakit, rasanya kurang cocok sih disebut sakit, atau mungkin sedih? Yah, begitulah pokoknya. 

Alasan saya memutuskan seperti itu adalah, saya tahu meninggalkan itu sakit-sedih, dan saat itu saya rasa ditinggalkan lebih menyakitkan-menyedihkan lagi. Selain itu dalam banyak kasus, orang yang meninggalkan adalah orang yang memutuskan sebuah perpisahan itu, saya pikir paling tidak saya tidak menjadi orang menginginkan atau memutuskan itu(kalo yang ini rasanya terdengar seperti mau lari dari rasa bersalah jika meninggalkan). Mungkin dibalik pilihan ini juga tersembunyi sebuah harapan bahwa yang meninggalkan kelak akan kembali, saya ingin saya akan selalu ada saat mereka-dia kembali, saya mengusahakan hal itu. Dan saat saya yang meninggalkan, tentu saya tidak bisa memaksa mereka untuk selalu ada saat saya kembali nanti, saya tidak ingin menyesali hal seperti ini. Saya pikir akan lebih baik jika saya saja yang nantinya menangis, bukan saya yang membuat mereka menangis. Lebih baik saya yang dikecewakan, bukan saya yang mengecewakan.

Rupanya saya terlalu memandang tinggi diri saya. Mungkin saya terlalu sombong.

Malam ini saya tahu, mungkin lebih tepat bila disebut kembali tahu, bahwa saya pun sebenarnya tidak mau ditinggalkan. Biar bagaimanapun tetap saja menyakitkan-menyedihkan. Bagaimanapun saya tetap ingin kamu, kamu dan kamu tetap ada disini menemani. Kamu yang sudah menjadi bagian hidupku ataupun yang nantinya menjadi bagian hidupku.

40 Responses so far.

  1. i-one says:

    wah,ane gak pilih dua-duanya.trauma,ane.pernah ditinggalkan dan meninggalkan (karena terpaksa)..

  2. mendingan mana? dua-duanya sama-sama sakit, meskipun sakitnya beda. tapi kebanyakan orang akan bilang lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan ya. saya kira itu karena ego dan harga diri aja.

    semoga semuanya baik-baik saja buat kamu :)

  3. klo mw egois, yah mgkin lebih parah meninggalkan. Karena membuat sedih orang yang ditinggalkan,, hehhe..

    tapi bener tuh kata I-one, ga gak pilih dua2nya. Lebih baik merawat dan mengembangkan. Daripada tinggal meninggalkan..

  4. meninggalkan lebih enak ah :P

  5. Gaphe says:

    ehm.. kayaknya ada yang lagi mau patah hati nih.. *uhuk*

    hahah.. piss ah.

    yaa kalo saya dua-duanya nggak enak yak.. meninggalkan means kita yang egois, kalo ditinggalkan.. means kita yang salah.

    pastinya, itu sebab akibat Yen.. tidak ada penyebab yaa tidak akan ada akibatnya.

  6. dalem Yen, hmmm.

    Ngomongin meninggalkan dan ditinggalkan.
    aku pernah ngalamin keduanya, yang paling sakit-sedih itu ya ditinggalkan seperti yang kamu bilang.


    cuman kenapa meninggalkan? pasti ada alasannya lah kenapa n kenapanya ...kamu nggak lagi meninggalkan-ditinggalkan tho?


    ayo, ndak usah sedih wis :)

  7. Eks says:

    yes, saya udah prediksi hari ini bakal ada new post. soalnya 1 bulan pasti kamu posting 9 artikel :D.

    meninggalkan dan ditinggalkan. saya juga lebih milih ditinggalkan darippada meninggalkan. soalnya saya mikirin perasaan orang yang saya tinggalkan... :D

  8. rabest says:

    kenapa harus memilih? dilanjutkan sajaaa...hehhe

  9. ash says:

    kalau boleh egois saya lebih baik meninggalkan.
    takutnya hati ini g'kuat kalau harus ditinggalkan.. T.T

  10. waduh, bingung juga, tp paling sakit yah ditinggalkan deh kayanya:D

  11. Kalau dari diri sendiri ya memang lebih enak meninggalkan lah.. Artinya egois..

  12. Huda Tula says:

    mmm..sama-sama ga enak...

    semua ada masanya
    *lagisokbijak

  13. YeN says:

    @i-one: woo..sedih boleh, tp jangan trauma mas.. :)

    @Ra-kun: begitulah kebanyakan.makasih^^

    @tito: walau bagaimanapun akan datang saat meninggalkan dan ditinggalkan to..

    @John: begitukah jon?

    @Gaphe: ukh..sebab-akibat ya mas gaphe...

    @Ajeng: semoga saja tidak jeng :)

    @Eks: Hemmm senangnya ada yang perhatian..Makasih >.<
    Wah sama dong..

    @rabest: apanya yang dilanjutkan?

  14. YeN says:

    @ash: aih namamu..
    huhu, begitu ya..? kuatkan hatimu ash, bagaimanapun saat itu akan datang..

    @Nova: saya pikir juga begitu :)

    @Adryan: kalo dari dirimu maksudnya? :p

    @Huda: beh, ini favorit saya.semua ada masanya..

  15. wiy says:

    kunjungan malam hari... untuk absen he he he

  16. betul yen
    karena ditinggalkan itu terlalu menyakitkan
    karena masih ada history yang tak bisa dihapus oleh waktu :)

  17. Aina says:

    sama-sama menyakitkan,,,, jika harus dipaksa milih nih,,, mungkin lebih baik ditinggalin... setidaknya kelak aku gak dibebani rasa bersalah terhadap orang yang kutinggalkan tersebut...

  18. kacho says:

    ehm.....menurutku, gak masalah ditinggalkan atau meninggalkan. Pada dasarnya, itu adalah kekhawatiran kita akan terluka, entah luka karena orang lain, ataupun luka karena rasa bersalah. Satu hal yang pasti adalah dalam hidup ini kita pasti akan mengalami yang namanya ditinggalkan dan meninggalkan. Sekalipun tidak kita inginkan, rencanakan, ataupun kehendaki, suatu saat pasti ada saatnya kita yang meninggalkan orang lain. Pun, dalam hidup, akan ada silih berganti, kita ditinggalkan oleh orang lain.


    Karena itu, Qrasa, yang penting adalah bagaimana kita mengatasinya, mengatasi luka yang disebabkan oleh itu. Bagaimana kita bisa berbuat yang terbaik, agar sekalipun ditinggal, kita tidak tertinggal. Agar sekalipun kita meninggalkan, kita gak akan merusak segalanya dan menyakiti terlalu banyak. Berbuat yang terbaik, mengubah segala rasa sakit, menjadi motivasi. mengubah segala rasa menjadi kekuatan, baik positif, maupun negatif.

    Aku rasa semua ini, kuncinya ada pada, menghadapi masalah yang sebenarnya, bukan lagi mencari pembenaran, atau menimbang-nimbang mana yang lebih nyaman buat kita. Menghadapi menjadi yang ditinggal, maupun yang meninggalkan.

    sekalipun kita memilih ditinggal, akan tetap merasa sakit. pun dengan meninggalkan, seringkali ada beban yang akan menggelayuti pikiran kita, sadar atau tidak.

    Tapi, apapun itu, itu adalah apa yang pasti terjadi. karena itu, yang kita butuhkan bukan lagi mana lagi menimbang yang lebih baik. tetapi, apa yang sebaiknya dilakukan saat hal itu tiba.

    sama halnya dengan mencintai dan dicintai,melupakan dan dilupakan,atau yang lainnya.

  19. Mr TM says:

    K-lo menurut saya meninggalkan n d tinggalkan sama takarannya, dan sangat bergantung kepada proses ataw penyebabnya...

    Konsekuensi pertemuan sdh pasti perpisahan n itu pasti terjadi.

    Bila kita bs menikmati indahnya pertemuan, kita jg harus berusaha sebisa mungkin meminimalsir pahitnya perpisahan. Karena kita semua harus belajar untuk tumbuh...

  20. Fairysha says:

    aku setuju sama kacho yen...hadapi saja...tak ada yang paling enak dan yang paling benar. semua itu ada penyebab dan alasan, tinggal kita bagaimana memaknainya...

  21. YeN says:

    @John: lalu apakah dengan meninggalkan lantas tidak ada history itu padamu?

    @Aina: begitu juga pikirku saat itu :)

    @kacho: yaaa mau ga mau memang keduanya harus dihadapi ka

    @Mr.TM: setuju mister, meminimalisir pahitya perpisahan.malah kalo bisa dibikin perpisahan yang manis :p

    @Fairysha: biasanya orang lebih condong ke salah satu mbak :)

  22. YeN says:

    @wiy: oke kamu hadir.besok ga boleh telat ya :)

  23. f4dLy :) says:

    Untuk meninggalkan dan ditinggalkan itu tak bisa ditentukan hanya dengan sebuah pertanyaan sobat karena harus diketahui dulu sebabnya...
    Salam kenal yah sebelumnya...

  24. Ya, ada kalanya kita memang harus mengalami masa-masa itu. Ditinggalkan atau meninggalkan.

    DInikmati aja semuanya. Hehehee...
    Hidup ini tidak semuanya bisa kita pilih sesuai keinginan kita. hehehe...

  25. ga pilih dua2 x gan :D

  26. YeN says:

    @fadly: ini hanya merenungi secara umum saja..

    @Sulhan: begitulah :)

    @basir Annas: sebenernya ga ada yang nyuruh milih juga sih..hihi

    @ma_dhan: :D

  27. kacho says:

    Masalahnya, dengan berpikir lebih memilih yang mana, bukannya itu kaya alih2 kita dari masalah yang sebenarnya. seperti yang udah Qbilang, pada dasarnya pemikiran itu muncul karena rasa takut kita akan terluka. Wajar sih, tapi saat kita memfokuskan hidup kita untuk lebih condong pada salah satu, itu udah berarti kita lari dari kenyataan.Di satu sisi, kita berusaha untuk meminimalkan luka kita, di sisi lain, kita sedang "membutakan mata" dan perasaan kita atas luka yang sebenarnya ada di dalam diri kita.

    Memang, secara perasaan kita cenderung utk condong pada salah satu, tapi bukan berarti itu alasan untuk membiarkan diri kita untuk condong pada salah satu.

    Yang aku maksudkan gak hanya harus menghadapi, tapi memfokuskan diri kita utk menghadapi masalah(dan lulus tentunya), bukan lagi memilih itu tadi.menghadapi itu pasti dan harus, tapi menunggu sampai kapan?dengan segera, atau menunggu sampai segalanya hancur, atau "kehilangan waktu" baru menghadapinya?

  28. tetap saja ada history
    tapi kan sifatnya temporary :D

  29. YeN says:

    @kacho: siapa bilang harus menunggu? saat memang itu waktunya..
    siapa yg mau segera berpisah dengan orang berarti..dan saat itu memang waktunya siapa yang bisa mengelak..??

    @John: bukankah yang ditinggalkan pun suatu saat nanti juga bisa terhapus?apa sih yang abadi?

  30. kacho says:

    lari dari kenyataan, itu masih bisa kan?dan kebanyakan dari kita juga gt.

  31. memang sih ... tapi rasanya beda aja :P

  32. YeN says:

    @kacho: memang, tapi bukan itu yang saya bahas disini :)

    @John: hahah, apa begini ini bisa disebut mental bang toyib ya? ;p
    menurutmu sendiri sebenarnya harus memilih ga sih?

  33. kacho says:

    iy, tapi intinya yang pingin kusampaikan udah ada di commentku sebelumnya koq. it's possible that both way are the way we run from the reality. so why dont we just focus to face it, then to choose one, however being leaving or leaving will happen to us.

    jadi, itu kan intinya. klo trs2an berpikir memilih yang mana, tetep aja, kapan kita berpikir bagaimana menghadapi dan "memberdayakan"-nya?

  34. YeN says:

    @kacho: haha, saya disini memang tidak menuliskan kesimpulannya ka. saya inginnya membuat ini lebih pada mengajak untuk merenungi bukan saya memberitahu mereka ini atau itu.begitu..

  35. kacho says:

    akhirnya, inget juga ama yang ini,hihihi....

    tulisanku juga mengajak untuk memikirkan kembali.

  36. YeN says:

    @kacho: ya sudah, mari berpikir kembali :)

  37. ^hemm... pilihan sulit ini.. sama-sama gak enak pilihannya. biasanya kita meninggalkan ya mungkin karena orang tersebut sudah mulai berbeda sifat dan tindak-tanduk orang tersebut sehingga kita merasa gimana gitu. ditinggalkan y mungkin juga begitu :D.
    ^kadangkala membuat keputusan untuk meninggalkan juga salah kok. dulu aku pernah punya teknik download internet super cepat dikampus, lebih cepat dari idcopynya john lah :p, sekitar 9-12MB/s untuk indowebster-sampe sekarang. ternyata temanku yang aku kasih tahu memberitahu ke orang lainnya tanpa seijin saya =.=". langsung putus deh pertemanan. Tapi beberapa bulan kemudian ternyata kita memang saling membutuhkan, saling butuh ilmu jadi balikan lagi, wwkkwk

  38. YeN says:

    nah itu dia sulitnya..

Leave a Reply