Di Ambang Kegilaan

Aku khawatir kalau nanti setelah aku baca, aku bakal ga nafsu makan.
Lebih baik aku makan dulu aja deh.

Aku khawatir kalau nanti setelah aku baca, aku bakal muak untuk melakukan apapun.
Sekarang aku kerjakan dulu semua hal yang harus aku kerjakan.

Aku khawatir kalau nanti setelah aku baca, aku bakal ga bisa tidur dengan nyenyak.
Sebaiknya aku tidur dulu.

Aku khawatir kalau nanti setelah aku baca, aku bakal ga sanggup tersenyum dan tertawa lagi.
Tertawa sekarang saja, itu ide bagus.

Aku khawatir kalau nanti setelah aku baca, aku bakal ga mampu menghadapi hari esok dengan semangat.
Mungkin aku tunggu besok sajalah.

Aku khawatir kalau nanti setelah aku baca, aku bakal tak bisa mengakhiri tahun ini dengan gembira.
Tahun depan pasti lebih pas.

Aku khawatir kalau nanti setelah aku baca, aku bakal tak bisa hidup lagi dengan bahagia.
Mati dulu. Perfect!


#saya tahu entri ini sama sekali ga pas momennya :P

Tangis dan Tawa

Terlalu banyak tertawa bisa membuat jiwamu kering.
Mari menangis.
Terlalu banyak menangis bisa membuat hatimu banjir.
Maka, jangan lupa tertawa.
Akan selalu ada saatnya untuk menangis.
Begitu juga untuk tertawa.
Nikmati saja tangismu dan jangan lupa untuk tersenyum setelahnya.
Tertawa..

Are You Good Enough?

Melangkah tak tentu arah di jalanan area kampus, tak sengaja aku melihat sobatku sedang duduk-duduk sambil membaca sebuah buku setebal kamus di bangku taman. Aku hampiri saja dia, aku hendak ceritakan saja padanya tentang kegundahanku ini. Hal ini mulai semakin menggelisahkan.

"Hai Din!", panggilku.
"Hei Sep! Darimana saja kamu? Ayo sini temani aku baca", dia menyahut dengan ceria.
"Din, kamu tahu tidak?", tanyaku ketika aku sudah duduk disampingnya.
"Tahu apa?"
"Ah, masa kamu tidak tahu?"
"Aku tidak tahu. Memangnya ada apa?"
"Uh, bagaimana mungkin kamu bisa tidak tahu?"
"Tentu saja mungkin lah..Kamu bahkan belum mengatakan soal apapun, bagaimana aku bisa tahu coba?", dia mulai terlihat agak kesal.
"Haha, benar juga".
"Haa~ kau mulai lagi. Hentikanlah kebiasaanmu itu, kau akan membuat orang kesal tau!"
"Maaf, maaf...", rajukku.
"Lalu ada apa sebenarnya?"
"Kamu pernah tidak memikirkan, bakal seperti apa jodohmu kelak? Maksudku bukan secara fisik, tapi lebih kepada bagaimana orangnya? Orang macam apa dia? Aku tahu jodoh itu di tangan Tuhan, tapi pernahkah kau?", aku katakan juga akhirnya hal itu.
Dia diam sejenak lalu berkata, "Sudah pasti. Malah aku tidak yakin ada orang yang tidak pernah memikirkannya. Tapi kau tenang saja".
"Tenang bagaimana maksudmu?", tanyaku heran.
"Ah, masa kamu tidak tahu?"
"Tahu apa?".
"Uh, bagaimana mungkin kamu bisa tidak tahu?"
"Ah, kau menggodaku! Ayolah, aku serius nih!"
"Hahaha, nah kesal kan rasanya digituin?"
"Iya, iya... Trus tadi tenang bagaimana maksudmu?"
"Kamu pasti pernah dengar kan perempuan baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik pula..
Aku menghela nafas.
"Justru itu yang selama ini meresahkanku Din...", aku tersenyum kecut.

--

Jadi kalian yang mana?
Apapun jawabannya, satu pesannya. Jaga dirimu.
Karena cuma kamu lah yang benar-benar senantiasa selalu ada bersama dirimu kecuali Tuhan, Malaikat dan Setan.