Sherlock Holmes says..

Berikut ini saya kutip dari novel Sherlock Holmes karangan Sir Arthur Conan Doyle.

Otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukkannya ke dalam loteng otaknya. Ia tidak akan memasikkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaannya, sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak. Semuanya itu ditata rapi dalam loteng otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru kalau kau pikir loteng otak kita memiliki dinding-dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukkan, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna itu menyingkirkan fakta yang berguna.
(Sherlock Holmes : A Study In Scarlet)

Saya Setuju. Namun, bagaimanapun soal pilih-memilih terkadang bisa menjadi begitu rumit. Mungkin enak kalo ada brain technology kayak di film Paycheck.

25 Responses so far.

  1. kalo misalkan ada teknologi otak .. ane mau beli ... biar ane setting otak ane biar ga kepikiran kamu #tsaah

  2. Benar, sobatku, Watson. :)

  3. Gaphe says:

    hampir sama dengan teori ransel kosongnya ryan bingham.. pernah liat filemnya?

  4. serupa tapi tak sama-intinya sama kayak buku yang aku baca tadi malem..ada memori yang sengaja diganti di otak kita karena memang udah nggak relevan lagi-ada juga hal2 yang dipertahankan.

  5. bener banget. kadang lebih pinter orang² bodoh ketimbang orang² bijak. :)

  6. sherlock holmes memang tokoh yg mementingkan detil

  7. apakah saya satu2nya yang tidak setuju disini? :D

  8. YeN says:

    @Iskandar: hahhah aku sendiri juga pengen punya

    @Hoeda Manis: masih tetep ga rela kalo om Hoeda yg jadi Sherlock :P

    @Ami: Maksud hubungannya entri ini dengan detil apa mbak? aku ga begitu ngeh :P

    @Gaphe: belum pernah..
    film apa judulnya mas? emg teori nya kayak gimana tuh? #penasaran

    @Ajeng: buku apa itu jeng?
    tapi rasanya ini bukan mengenai sistem otak jeng, tp lebih pada bagaimana kita 'manage ourself' *beh, saya sok tahu*

    @Akane: maksudnya gmn tuh?

    @Ario: engggggg, trus maksudnya gmn om?

    @Yus: oh, kamu ga setuju? :D

  9. ANE JUGA GAK STUJU, WLWPUN ANE PNGGEMAR SH..
    OTAK MNUSIA THU LUAR BIASA BSA NAMPUNG BNYAK HAL..

    APA SALAHNYA KITA NAMPUNG SGALA YG KITA TEMUI..
    KALO GAK BRGUNA SAAT INI PASTI ADA GUNANYA DI MASA DEPAN..
    TRUST ME...^^

  10. otak manusia berapa Tera byte?

  11. YeN says:

    @manusia: hemmm gitu yah?
    menurutku tulisan itu tidak bermaksud melarang menampung segala sesuatu tapi lebih pada mengingatkan agar berhati-hati dalam menyimpan sesuatu di otakmu karena, seperti kata Sherlock "penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna" :P

    @Tip Komputer: tergantung masing2 manusianya, kan spesifikasinya juga beda-beda, haha

  12. kacho says:

    aq juga gak setuju. soalnya, kalau :Untuk setiap pengetahuan yang kau masukkan, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan", maka logikanya gak ada yang tersimpan dalam otak dunk, atau paling banyak lah satu informasi aja? Kan otak diibaratkan sebagai sesuatu yang kosong tuh??

    Teruz, kita juga gak mungkin selalu tau kan bahwa sesuatu itu memang gak berguna atau berguna. Soalnya, mungkin aja sekarang kita anggapnya gak berguna, tapi siapa yang tau nanti atau dalam konteks lainnya justu sangat dibutuhkan. Mungkin bukan kita yang butuh, tapi orang lain. Iya kan??

    Terus, kata2 ini : "Keliru kalau kau pikir loteng otak kita memiliki dinding-dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukkan, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. " Rasanya jadi mengesankan kalo memori otak kita itu muatnya sedikit. Padahal kan gedhe banget. Sampe sekarang aja gak ada komputer atau tekno canggih lainnya yang bisa nyamain teknonya otak.

    Daripada memilih untuk menyimpan info yang lebih berguna atau nggak, rasanya aku lebih memilih untuk "mengorganisir" otak kita.

  13. bima says:

    wah mas john ngomen pertama dewe langsung nggombal #gombal

  14. YeN says:

    @kacho: yo enggaklah. maksudnya kalo sudah penuh tentunya.

    ya kalo itu emang ga ada yg bakal tahu, tp kan sesuatu itu seharusnya dilakukan berdasarkan tujuan tertentu. saat kamu bertujuan untuk menjadi chef, tentu kamu akan mempelajari hal yg berhubungan dengan profesi sbg chef kn?

    wah, kalo ini sih asli asumsi yg terlalu dini :))

    saya setuju dengan mengorganisir otak kita. yang namanya mengorganisir pasti nanti akan ada yg namanya skala prioritas. maka disitu akan terdapat yg namanya penting dan tidak penting :D

    @bima: haha

  15. kacho says:

    lah, masalahnya kapan penuhnya? Sampe sekarang belum ada lo teknologi yang bisa ngalahin kapasitas dan kemampuan akal manusia? Yang katanya terjenius aja, penggunaannya masih jauh dari angka 50%??

    Nah, masalahnya kita hidup kan gak melulu berhadapan dengan chef. Kita ini manusia, gak cuma chef. Manusia berarti di dalamnya bisa saja terdiri dari banyak identitas, bisa chef, ayah, ibu, kekasih, adik, kakak, tetangga, rekan kerja, makhluk bumi, dll. Dan, dari begitu banyak sisi kehidupan yang kita miliki, kita gak bisa memilih satu persatu mana yang dibutuhkan dan membuang yang nggak. Karena ke depannya kita gak tau kan apa yang akan terjadi pada hidup kita? Bisa saja tiba2 kita dihadapkan dengan realitas jadi tarzan yang harus bertahan hidup di tengah hutan. Kalo cuma info chef yang dia simpan di otaknya, mana bisa dia bertahan hidup dari hewan/alam yang liar?


    Maksudnya asumsinya sapa nie? Coba deh, baca komentku secara keseluruhan dan pernyataannya dia juga.

    Memang ada skala prioritas, tapi bukan berarti yang gak prioritas itu harus dibuang,kan? Dalam mengorganisir otak kita, itu lebih cenderung merelasikan dan "merapikan" isi otak. Bukan membuangnya, atau menganggapnya nggak penting, hanya "belum dibutuhkan", bukan "gak dibutuhkan"

  16. Wah, kacho serius banget nih. Lanjut girl! :D

    Btw, "chef" itu maksudnya gimana nih? Aku kok belum dong.

  17. kacho says:

    Ah, akhirnya ada yang menyadari kalo aq cewe (lho?).wkwkwkwk..... :p

    Sepemahamanku sih chef itu sama kayak koki bukan? Iya kan yen??

  18. Urun rembug dikit. Sebenarnya, yang dimaksud Sherlock Holmes dalam kalimat di atas tuh adalah kenyataan bahwa kita tidak bisa mengingat semua yang telah kita pelajari.

    Benar bahwa kapasitas otak kita sangat besar, bahkan umpama seluruh pengetahuan yang ada di dunia ini dimasukkan ke dalamnya, otak kita masih memiliki ruang. Namun, daya ingat manusia tidak sehebat itu. Untuk setiap pengetahuan baru yang kita masukkan, sadar atau tidak kita akan melupakan beberapa pengetahuan lama yang pernah kita ingat.

    Bukti mudahnya, kita hari ini tentu tidak bisa (atau setidaknya sulit) jika diminta mengingat semua pelajaran yang pernah kita terima di SMA, SMP, atau SD. Hal itu menunjukkan bahwa meski kapasitas otak kita luar biasa, namun daya ingat kita memiliki batas. Dalam hal ini, solusi terbaik untuk selalu mengingat pengetahuan yang kita terima adalah dengan menulisnya.

    Kata Imam Ali ra, "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya." Salah satu motivasiku bikin blog BELAJAR SAMPAI MATI juga dalam rangka itu, yakni "mengikat" pengetahuan yang pernah kupelajari, biar tidak mudah terlupakan.

    IMHO.

  19. kacho says:

    @mas Hoeda Manis :Em....Memang sih, kita gak bisa mengingat dengan segala informasi yang masuk dalam otak kita. Tapi, yang membuat gusar adalah kesan yang disebabkan ama kata-kata itu.

    Kesannya itu, kayaknya yang membuat kita melupakan pengetahuan2 yang lama itu adalah karena masuknya pengetahuan-pengetahuan yang baru itu dalam ingatan kita. Padahal belum tentu itu adalah proses/mekanisme yang terjadi dalam otak kita. Dan kesannya pula, kapasitas/jumlah hal yang kita ingat akan selalu sama setiap waktu. Karena dikatakan untuk setiap info yang kita terima, maka kita akan melupakan pengetahuan yang lama. Padahal kan apa yang kita ingat, sejak dulu dan sekarang itu semakin bertambah. Bukannya begitu?

    Yang membuat kita melupakan sesuatu atau tidak, bukan karena masuknya pengetahuan baru, ataupun kapasitasnya yang kurang. Tapi, bagaimana kita memberi "nilai" dan proses "menyimpan" informasi itu kan yang mempengaruhi ingatan kita. Qrasa begitu.

    O y, IMHO itu apa ya?

  20. YeN says:

    jangan-jangan itu cuma asumsi mu ka
    karena aku nangkepnya ga gitu sih..

  21. kacho says:

    Terus, kamu nangkepnya kayak gmn?

  22. YeN says:

    aaaaa rasanya itu akan jadi panjang sekali. aku males ngetiknya :p

  23. kacho says:

    yah, sudahlah. hufth....

Leave a Reply