Curhat Aja

Hari Minggu yang panas. Saya harus ke perpus buat balikin buku yang udah terlambat 4 hari tapi masih belum kelar juga dibaca.

Sampai di perpus. Lihat-lihat buku. Jadi keinget sama sebuah buku yang pernah saya baca sedikit, menarik, dan hampir saya pinjam tapi ga jadi lantaran batas peminjaman yang maksimal cuma 2 buku. Sebuah buku yang kalau tidak salah ada tulisan "Kumpulan Cerpen Tanpa Nama". Sebenarnya tidak persis seperti itu sih, tapi pokoknya maksudnya begitu lah. Buku itu berisi kumpulan cerpen yang oleh pengarangnya tidak diberi judul.

Sudah tak terhitung berapa kali saya mencoba mencarinya kembali, tapi sampai sekarang saya masih juga belum berhasil menemukannya. Berhubung saya tidak ada kegiatan lain, saya putuskan untuk mencarinya lagi kali ini. Dengan lebih sungguh-sungguh mungkin.

Setelah mendapat petunjuk dari rak mana sebaiknya saya mulai (*halah), saya pun mulai mencari. Satu per satu buku saya baca judulnya dan perhatikan dengan cepat, tepat dan seksama. Dari rak timur ke barat. Dari berdiri, jongkok, sampai berdiri lagi. Dari sebelum jam 12 sampai sekitar jam 1, masih ga nemu juga. Kalau sudah begini, semua yang ada di perpus bisa jadi salah. Hal-hal yang biasanya termaklumi bisa menjadi tak termaafkan.

"Ah kenapa dulu ga aku pinjem aja ya?"
"Kenapa dulu ga aku inget-inget judul bukunya sih? Nama pengarangnya juga, malah mungkin perlu sekalian nama penerbitnya biar gampang carinya."
"Kenapa sih katalognya perpus ga bisa dipake gini? Masa rusak kok terus..Koneksi internetnya lemot? Harusnya ganti provider dong! Atau jangan-jangan teknisinya yang bego, ga bisa maintenance. Ini instansi pemerintah kok pelit banget! Percuma dong gratis kalau tidak memuaskan."
"Ini juga buku fiksi indonesia jadi ada di bagian fiksi inggris? Ga pernah dikontrol apa ya? Pegawainya ngapain aja sih? Makan gaji buta nih! Padahal gaji dari instansi pemerintah begini biasanya gede.. Sayang sekali, ckckck."

Daripada semakin membuang waktu dan semakin sebal, saya putuskan untuk pulang. Saya menyerahkan buku yang ingin saya kembalikan, perpanjang, dan pinjam. Dikarenakan buku yang saya kembalikan terlambat, oleh petugas bagian belakang saya disuruh membayar dendanya dulu di bagian depan, dan ternyata di depan itu antriannya panjang sodara-sodara.

Awalnya saya sabar. Ada seorang ibu yang mengembalikan buku yang terkena denda, sekaligus meminjam beberapa buku baru. Seharusnya setelah bayar denda, transaksi peminjaman ibu itu dilakukan di belakang, terlebih lagi keadaan di depan sedang ramai. Tapi eh tapi ini malah dilayanin di situ juga. Padahal nih, masih ada saya serta dua orang mas-mas yang mau daftar jadi anggota nungguin. Mungkin mbak penjaga bagian depan ini sungkan kali ya kalau mau nyuruh ibu itu pinjam ke belakang, saya bisa maklumi. 

Penjaga loker yang merangkap sebagai petugas yang mematikan alarm buku ternyata sedang tidak ada di tempat, sehingga saat ada customer(sebut saja begitu) yang mau ambil tas atau mematikan alarm bukunya harus nunggu lama, dan akhirnya si mbak bagian depan itu yang terpaksa mengambil alih tugas penjaga loker. Mengakibatkan penantianku semakin lama. Oke, ini karena terpaksa, saya maklumi. Saya masih sabar.

Mengenai petugas yang tidak ada ditempatnya pada saat jam kerja ini sudah pernah saya komplain sebelumnya. Waktu itu hari jumat, saya sadar itu waktunya solat jumat bagi yang laki-laki, tapi kok dengan tidak sopannya para customer ditinggalkan juga oleh pegawai wanitanya, mereka bilang istirahat. Pengen rasanya saat itu saya rampok perpusnya gara-gara ga ada yang jaga. Sungguh menggelikan. Makanya langsung saya komplain. Eh ternyata sekarang kejadian lagi. Situasi yang agak beda tapi sama saja.

Tak lama, ada mas-mas yang sepertinya seperti...ga tau lah apa. Yang jelas, dia bilang ke mbak penjaga bagian depan ini supaya menyuruh orang yang melakukan transaksi pinjam(mungkin yang dimaksud ibu2 yang tadi) untuk pinjam ke belakang sehingga ga ngantri seperti itu. Si mbak bilang "semuanya ngembalikan mas". Saya diam saja.

Setelah lama melayani ibu yang tadi, lalu melayani dua orang mas yang mau daftar anggota, pas giliran saya dia tanya 
"Mau ngembalikan mbak?"
Aku jawab "iya, bayar denda mbak"
"Mau pinjem ya?"
Karena memang saya mau pinjem lagi saya jawab "iya"
"Kalau mau pinjam, di belakang mbak."

Siaaaaaaaal!!! Saya juga tahu kalau mau pinjam itu dibelakang! Saya ini mau bayar denda tauk! Kamu belum tahu siapa saya hah?!?!

Sungguh tadi pengen rasanya bilang begitu ke mbaknya. Orang aku udah nunggu lama gini juga. Untung aja ga jadi.

Saya jawab "saya mau bayar denda embaaak..." dengan penekanan yang tidak biasa. DAn si mbak diam.

Hmmmmmm, apa saya aja yang sedang darah tinggi ya? *istighfar* :P

9 Responses so far.

  1. hahaha, pilih kasih ya mbak-mbaknya...

    mungkin bertepatan dengan mood kamu yang lagi jelek yen :P

  2. YeN says:

    hahha iya mungkin :P

  3. hahaha ... kasihan yah mbak nya :D

  4. ^profil petugas-petugas di indonesia =.=

    wanna help? telp 14045 :D

  5. YeN says:

    @Iskandar: awalnya kasihan kemudian jadi gregetan.uh!

    @arif: masi tetep enakan 500505 :D

  6. kacho says:

    Efek iri+nunggu kelamaan+pengalaman buruk :p

Leave a Reply