Sepertinya Ini Ga Perlu Kalian Baca

Ehem ehem,

Sebenarnya bulan April ini banyak cerita dan  hal yang mau saya posting di blog ini, tapi...

*mikir*
*mikir*
*mikir*
*mikir*
*mikir*
*mikir*
*mikir*

Emmm..mungkin cuma saya aja yang sok sibuk.

Lalu apa kemudian cerita yang mau saya posting di bulan April bakalan batal di posting karena bulan April sudah lewat?

Rasanya sih enggak. Cepat atau lambat, bakalan tetap saya posting kok(siapa juga yang peduli?), karena sudah saya putuskan untuk mempostingnya. Semoga saja tidak keburu basi.

Aaargh!! Kenapa saya ga mudeng sama kuliah jarkom ini?!?! #ERROR

Sama Dengan




Kalian tahu apa fungsi tombol  = (sama dengan) pada kalkulator? Yeaaaaa, semua orang pasti bakal jawab "untuk menampilkan jumlah/hasil perhitungan yang dilakukan.

Jawaban itu benar, tentu saja. 

Tapi coba kalian perhatikan di pasar-pasar, toko-toko, mall-mall dimana banyak para penjual yang sudah fasih menggunakan kalkulator. Perhatikan bagaimana cara mereka menggunakan kalkulator untuk menghitung jumlah belanjaan. Niscaya kalian akan mendapati bahwasanya mereka kebanyakan melihat hasil akhir perhitungan dengan menekan tombol + (tambah) dan bukan = (sama dengan).

Kenapa?

Menurut hipotesa saya sih hal ini dikarenakan jumlah yg dihasilkan oleh tombol = (sama dengan) itu suka lebay. Bilangannya akan terus bertambah setiap tombol = (sama dengan) ditekan. Iya kan?

Padahal nih, kita manusia, suka lupa dan ga yakin tadi udah mencet = (sama dengan) atau enggak. Kalau emang belum sih gapapa, tapi kalau sudah? Hasil akhir perhitungan menjadi kurang valid kan jadinya. Kalau belanjaannya sedikit sih gapapa tinggal di ulang, tapi kalau belanjaannya yang sampai bermeter-meter notanya wassalam deh. Belum lagi kalau pake kalkulator yang ada di komputer, yang perlu di klik pake mouse, terus mouse-nya lebay juga (kayak mouse-ku dikelas) yang dipencet sekali tapi reaksinya double klik. Rasanya pengen banting aja.

Aku jadi penasaran kenapa tombol = (sama dengan) harus dibikin begitu sih? Agak mubazir kan jadinya..

Meleleh

Pilek identik dengan flu.
Flu identik dengan udara dingin.
Tadi siang saya pilek.
Tapi saya tidak flu.
Apalagi tadi panas banget.

Lalu kenapa saya pilek?

Mungkin karena panas.
Ingus saya jadi meleleh.
*sroooot

Butterfly Effect

Ehmmm...ini bukan review.

Jadi ceritanya barusan saya lihat ada film Butterfly Effect diputar di GlobalTV. Film bagus. Saya sudah beberapa kali menontonnya. Awalnya saya excited, tapi setelah menonton selama beberapa waktu saya jadi ingat. Ingat bahwa film ini sangat... Tidak. Menggalaukan bukan lagi kata yang pantas untuk mendeskripsikannya. Menyakitkan, mungkin itu yang lebih tepat.

Mengingat lagi saya sedang tidak dalam keadaan yang cukup siap dan kuat untuk menerima terjangan kesuraman Butterfly Effect, saya putuskan untuk batal menontonnya.

Sekian. Selamat malam.

Eh sebentar. Ada satu kesimpulan yang saya tarik dari film ini, yaitu :

"Every decision has their own responsibilities. Walau sekecil apapun itu. You'd better be ready."

Kali ini beneran. Sekian. Selamat malam.

Aku Percaya Kamu

Kamu percaya aku? Hebat. Karena bahkan aku sendiri pun terkadang tak percaya. Pertahankan.

entri di edit sedikit dikarenakan banyak yang kurang paham *emangnya sekarang udah jelas??*

Cerita E-ktp : Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Pagi-pagi sampai di tempat kerja, kok keadaan sunyi senyap. Selidik punya selidik rupanya semua penghuninya sedang berangkat foto e-ktp. Saya jadi ingat kalau beberapa minggu lalu saya juga foto e-ktp, cuma bedanya saya dulu dapat jadwal foto di malam hari.

apa ini e-ktp?

Oh ya, cerita pemotretan e-ktp saya mungkin memang agak tidak biasa. Hari itu seharusnya saya ada jadwal untuk...emmm...sebut saja kuliah malam, tapi berhubung seleng bensin saya bocor saya jadi bolos (padahal emang males :P  ). Saya udah seneng aja pas bolos, berharap bisa mendapat waktu tidur ekstra, lupa kalau ada jadwal e-ktp. Pas jam 7, ibu saya pulang dari rumah kakak saya, mengingatkan kalau ada jadwal pemotretan dan mengacaukan impian saya untuk tidur -__ -

Dengan kondisi tangki bensin yang hampir kosong karena selang bocor, sekitar jam 8 saya berangkat ke kecamatan bersama ibu, itupun setelah beratus kali diingatkan dan diyakinkan kalau pemotretan tidak bisa dilakukan lain hari. Saya sampai di kecamatan dalam kurang lebih15 menit perjalanan menggunakan motor. Beruntung saya bertemu beberapa tetangga saya yang kebetulan juga dapat giliran foto, sehingga saya dan ibu  ada teman ngobrol.

Sudah menjadi sebuah rahasia umum, bahwa antrian e-ktp bisa sangat membunuh. Ya, membunuh jiwa-jiwa yang bahagia. Diceritakan bahwa antriannya kadang bisa sampai berjam-jam padahal hanya untuk pemotretan dan sidik jari yang cuma memakan waktu 15 menit-an. Rupanya memang itu pula lah yang terjadi pada saya. Bayangkan saja, saya baru dapat giliran foto setelah menunggu selama hampir 5  jam. Tepat sekali. Saya dapat giliran foto pada jam 1 malam.

Sudah wajah aneh akibat bibir yang lagi sariawan, ditambah ngantuk berat yang melanda, entah akan jadi seperti apa foto saya nanti. Yang lucu itu kejadian pas bikin foto mata, entah foto retina atau apa ya itu saya kurang tahu, yang jelas mata kita seperti di foto gitu lah. Pas alatnya dipasang petugasnya bilang, "Matanya di melototin ya mbak.."Saya pun berusaha me-melototkan mata yang sudah ngantuk ini."Kurang melotot mbak", suruh petugasnya. Saya berusaha lebih melotot lagi."Kurang mbak. Itu yang sebelah kiri masih kurang, yang kiri matanya lebih melotot lagi", suruh petugasnya lagi.Aku langsung menyahut, "Hah? Mana bisa mas? Gimana caranya mas melototin mata cuma sebelah doang coba??""Haha, iya. Udah kok mbak, udah", kata petugasnya kemudian.

Setelah selesai semua, saya bergegas pulang. Sialnya motor saya mogok karena kehabisan bensin. Tapi rupanya Tuhan masih menyayangi hambanya penuh dosa ini *halah. Tetangga saya yang tadi ngantrinya tepat di depan saya, rupanya nungguin saya, dan akhirnya saya ditolongin buat beli bensin di tengah malam buta itu. Terima kasih Pak Gde dan Bunda Ance :)

Begitulah cerita e-ktp saya. Kalau anda, sudahkah anda bikin e-ktp?