Latihan


Aku baru saja selesai makan siang, saat aku masuk ke kamar kos. Di dalam kamar, kudapati kawanku sedang sesenggukan di pojok ranjang sambil mulutnya komat-kamit, entah mengucapkan apa. Baiklah, ini sudah keterlaluan. Aku sudah melihatnya dalam keadaan seperti itu sejak sehabis sarapan tadi, bahkan sudah beberapa hari ini dia tampak murung. 

Secuek-cueknya aku terhadap keadaan di sekelilingku, aku sudah tidak bisa mengabaikannya lagi. Hhh sebenarnya aku tidak suka mengganggu orang yang sedang bersedih, tapi ini sudah tidak bisa dibiarkan.

Terheran-heran aku memandanginya sambil kemudian mengambil tempat untuk duduk di ujung ranjang, di hadapannya.
"Kamu baik-baik saja?" 
Tsah pertanyaan macam apa ini, gerutuku dalam hati, sudah jelas dia tampak tak baik. Kulihat dia mengangguk sambil masih tetap sesenggukan dan mengelap air mata dan ingusnya. Tentu saja aku tak percaya.
"Tapi kok kamu nangis? Ada apa?"
"Ga apa-apa kok, aku cuma sedang berlatih", jawabmu dengan suara yang agak bergetar. 
"Berlatih? Drama?" tanyaku bingung.
Dia menggeleng cepat sebagai jawabannya.
"Lalu?"
"Aku hanya sedang berlatih untuk menyampaikan kata perpisahanku pada
orang yang aku sayang."
"Cuma itu?"
"Ya, memang itu, tapi bukan 'cuma itu'. Ini hal yang sangat penting buatku."
"Hemmm", aku berusaha memahami, "tapi bukannya tinggal ngomong gitu aja ya? Kenapa harus pake latihan segala, ini kan bukan pidato, apa kamu takut lupa saat di depannya?" lanjutku. 
Entah kenapa aku mulai merasa jadi manusia berhati batu seusai mengucapkan kalimat terakhirku.Bukannya bermaksud tak berperasaan, namun terkadang otakku sangat menuntut penjelasan logis.

Tapi dia memang kawanku, kendati dengan ekspresi aneh campuran tangis dan senyum, alih-alih sakit hati dengan pertanyaanku dengan sabar dia menjawab.
"Bukan. Bukan lupa yang aku takutkan."
"Then what?"
"Aku cuma tak ingin menangis saat mengatakannya. Aku tak ingin membebaninya," dia berhenti sejenak untuk kembali mengelap ingus kemudian melanjutkan, "Semoga saja dengan banyak berlatih bisa membuat hatiku lebih kuat sehingga nanti tak menangis lagi saat mengatakannya".
Dia menghela napas panjang. Aku diam, bingung bagaimana caranya agar aku dapat menghibur dan membantunya.
"Yah paling tidak ini membantu menghabiskan kantung air mataku. Syukur-syukur kalau sampai kering sehingga tak ada lagi yang bisa keluar lagi nanti. Hahaha," dia berusaha mencandakan kegetirannya tapi aku tak mampu ikut tertawa. Aku berusaha tersenyum.
"Memangnya kapan kamu akan mengatakannya?"
"Besok," jawabnya mantap.
Kuraih tangannya. Lalu kugenggam erat, berharap dapat memberi dia kekuatan dengan itu.
"Yasudah, sebaiknya kamu makan siang dulu sekarang."

---

Novel Pride and Prejudice sudah saya siapkan. Begitu juga dengan sebungkus nasi rendang, keripik kentang, kacang goreng dan satu teko sirup markisa di dalam kulkas. Persiapan untuk menghabiskan malam mingguku sempurna. Kawanku? Dia sedang melaksanakan misinya. Aku turut berdoa, semoga saja latihannya seharian kemarin bisa berguna.

Beberapa waktu kemudian, saat aku tenggelam dalam bacaanku dan keripik kentang, seseorang membuka pintu kamar dan langsung masuk. Tentu saja hal ini serta merta mengalihkan perhatianku dari buku. 
"Well, paling tidak sekarang aku tahu satu lagi kelebihanku. Ditangiskan seharian pun masih belum bisa membuatnya kering," kata orang yang datang itu sambil tersenyum.

Kawanku itu telah kembali dari misinya. Dengan mata sembab dan sedikit senyum yang dipaksakan.


6 Responses so far.

  1. f4dLy :) says:

    Tolong ambilin sapu tangan untuk bersihkan ingusnya yah :)

  2. YeN says:

    hhehe cupu yah? critanya ttg orang cengeng mulu :p

  3. YeN says:

    ga punya, adanya tisu

  4. YeN says:

    salam kenal juga :)

Leave a Reply