Koishikute - Longing for You

Yes! Nanti malam padang bulan. Aku suka sekali malam bulan purnama. Langit terang, dan manusia-manusia akan ramai berjalan-jalan di pasar malam sekitar sini. Menyenangkan sekali melihat mereka berkumpul dan bergembira, mengingat yang bisa aku lakukan hanya duduk dan berdiri disini tanpa bisa kemana-mana selama bertahun-tahun, itu satu-satunya hiburanku. Apa? Kenapa aku tidak pergi? Kalau bisa pasti sudah aku lakukan dari dulu. Ada yang harus aku tunggu disini. Sialnya aku tidak tahu apa yang aku tunggu.

Matahari sudah agak tergelincir ke arah barat, hari sudah mulai menjelang sore. Aku masih sibuk berdoa semoga malam padang bulan segera tiba saat seorang lelaki berusia sekitar setengah abad tampak datang berjalan menujuku. Aku tidak tahu siapa dia, tak pernah melihatnya di sekitar sini sebelumnya. Seketika gelombang rasa yang menyenangkan menjalari tubuhku, semacam ada kerinduan yang terpenuhi saat melihatnya, seakan malam padang bulan telah tiba. Oh tidak, ini bahkan seribu kali lebih baik dari itu. Penantianku pada padang bulan pun berbalik menjadi ketidak sabaran menanti lelaki itu sampai di depanku. Penantian berjarak 130m yang terasa bagai penantian padang bulan ke-13.

Tanpa sadar aku menahan napas, begitu lelaki itu sampai di depanku. Aku terlalu gugup bahkan untuk sekedar bernapas. Lelaki itu mengambil sesuatu dari kantong celananya, tampak seperti sebuah amplop, kemudian bersimpuh. Dia mulai mengatakan sesuatu. 
"Aku datang Yen", lelaki itu berkata. Rupanya dia mengenalku. 
"Aku datang memenuhi janji", dia melanjutkan, "janji untuk datang menemuimu setelah aku berhasil menjadi Kapten. Sekarang aku sudah berhasil Yen, menjadi Kapten Bhirawa".
Kata-katanya terhenti dan tampak ia cepat-cepat menyeka pipinya. Mungkin ia tak ingin ada orang yang melihatnya dalam keadaan lemah, menangis. 
"..Sebenarnya aku telah menjadi Laksamana", ia melanjutkan. "Maafkan aku. Maafkan aku yang terlalu terlambat  untuk datang", lelaki itu menunduk penuh penyesalan.
"Tadinya aku ingin menghukum diriku dengan tidak boleh menemuimu disini seumur hidupku, aku tidak pantas menemuimu, sekalipun aku telah menjadi Kapten bahkan Laksamana. Aku terlambat. Kau terlebih dahulu meninggal karena wabah. Namun aku tidak sanggup. Maafkan aku".

Tenggorokanku tercekat. Seketika aku ingat. Jadi kamu..kamu yang selama ini aku tunggu. Tubuhku bergetar. Kamu... Bhirawa, kekasihku. 
"Maafkan aku Yen", dia berkata lagi, "semoga kau bahagia disana. Aku akan selalu menyimpan surat cinta yang terakhir kau kirimkan padaku. Aku mencintaimu. Selalu..", ujarnya sambil menggenggam surat yang tadi dikeluarkannya dari kantong. Pandanganku semakin buram, entah karena mata yang semakin penuh dengan air mata atau karena tubuhku yang semakin memudar seiring langkah kepergianmu dari tempat dimana aku berdiam selama ini. TPU Kembang Kuning, Surabaya.

Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest : Senandung Cinta

2 Responses so far.

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Flash Fiction Senandung Cinta.

    Ikuti juga Kontes Unggulan Blog Review Saling Berhadapan di BlogCamp (http://abdulcholik.com)

    Salam hangat dari Surabaya

  2. YeN says:

    sama-sama pakdhe, terima kasih sudah boleh ikutan :)

Leave a Reply