Lolos dari Razia SIM

"Haduh..udah jam segini. Eh Ka aku pulang duluan ya, takut kena operasi nih.. Dadagh!" teriakku dari atas motor. Aku langsung tancap gas tanpa menunggu balasan sahabatku itu. Maklum, kalau hari mulai malam sering ada operasi razia SIM di jalan-jalan tertentu di Surabaya, aku yang masih belum punya SIM ini harus pintar-pintar memilih waktu dan jalan yang akan dilewati. Rute perjalanan dari tempat nongkrong kami tadi sampai ke rumahku melewati beberapa titik rawan operasi yang tidak dapat dihindari, jadi satu-satunya cara untuk lolos adalah dengan pemilihan timing yang tepat. Itu sebabnya aku mengendarai motor dengan agak tergesa. Bisa saja sih aku santai dan memilih pulang saat razia usai dilakukan, tapi malam akan jadi terlalu larut sedangkan aku pulang sendirian. Ah harusnya aku pulang lebih cepat tadi, gerutuku sambil..shock!

Tepat setelah menikung tampak beberapa polisi dan pengendara motor berbaris. No way.. Razia!!

Ingin sekali rasanya aku putar balik dan lari dari razia. Tapi jarakku dengan polisi sudah tak sampai 50m lagi. Polisi pasti sudah melihatku, putar balik akan terlalu kentara, bisa-bisa nanti  malah dikejar sama polisinya. Ga lucu. Memangnya ini acara reality show kriminal apa?

Pelan-pelan aku ikut berbaris bersama pengendara motor yang lain. Berusaha tampak biasa. Sambil berdoa agar bisa lolos, otakku terus berputar memikirkan caranya, walaupun seiring semakin memendeknya barisan, otakku makin blank.

“SIM? STNK?” todong polisi yang kini sudah ada di hadapanku. 
“Oh SIM?” tanyaku pura-pura bego. Dengan agak panik, pelan-pelan tanganku bergerak merogoh-rogoh tas, berlagak akan mengambil SIM yang sesungguhnya tak pernah ada. 
“Udah yang ini biarin lewat aja”, kata seseorang. Rupanya seseorang itu adalah pak polisi yang berdiri di sebelah polisi yang meminta SIM ku tadi. Tanganku yang tengah bergerak menggenggam dompet berhenti, kulirik mereka berdua.
“Apa?” tanya polisi satunya.
“Udah suruh langsung aja,” ulang pak polisi tadi, “Ayo mbak terus aja. Cepet..cepet...”
Aku melongo hampir tak percaya, untung aja aku pake masker, jadi wajah cengo-nya ga terlalu keliatan. Setelah mengangguk sebagai ucapan terima kasih aku pun buru-buru pergi, sebelum mereka berubah pikiran hihi.

Fiuuuuuuh. Lega sekali. Meski begitu, sepanjang sisa perjalanan aku terus bertanya-tanya, alasan apa kiranya yang membuat mereka meloloskan aku. Ga mungkin kan kalau cuma karena mereka percaya aku punya SIM? Apa aku dikira anak dari kenalannya? Tapi kan aku pakai masker? Atau tingkahku memang tampak kentara sekali tak punya SIM tapi berlagak punya, sebegitu menyedihkan sehingga mereka kasihan?

Apapun alasanya, pokoknya alhamdulillah banget aku sudah lolos dari razia. Terima kasih sekali buat pak polisinya. Anda kembali mengingatkan saya bahwa Allah maha kuasa. Keajaiban itu ada.

---

Cerita ini ditulis untuk mengikuti Kinzihana's Giveaway
kategori non fiksi (biar gaya ceritanya begitu tapi ini nyata loh)

13 Responses so far.

  1. masak cm gitu aja..?
    jangan2 sampeyan polisi jg ya mbak..?
    :P

  2. YeN says:

    ya gitu deh, alhamdulillah :D
    haha bukaann..

  3. Mita says:

    hihi lucu mbak, untungnya bisa lolos ya :D

  4. Arr Rian says:

    kunjungan balik biar diajarin background ga ikut scroll itu gimana ya? hehehe terima kasih sebelumnya

  5. Arr Rian says:

    eh ternyata diotak-atik bentar, bisa juga,,,hehhee. makasih sarannya

  6. YeN says:

    hehe sama2, untung kamu udah tau caranya duluan :p

  7. jiah asyik nie bisa lolos dari razia

  8. jd inget jaman SMA-srg dag dig dug kalo ada razia :D skrg udh punya SIM blm?

  9. kayaknya ada malaikat leat deh hehe

    makasih ya sudah berpartisipasi

  10. YeN says:

    duh ntar kalo aku kasih tau aku bisa jadi TO nih haha

  11. YeN says:

    ihh mbak bisa aja hehe
    Sama2 mbak, makasih udah mampir :)

Leave a Reply