Tentang Sebuah Nama : Eko


Saya masih ingat betul. Namanya Eko. Bocah laki-laki paling metal(MEllow toTAL) yang pernah saya saksikan ke-metal-annya secara langsung dengan dengan mata kepala saya sendiri. Saya kenal dia sewaktu masih duduk di bangku kelas 4 SD di kota Pandaan.

Peristiwa itu terjadi saat jam pelajaran masih berlangsung. Gurunya sedang pergi meninggalkan kelas, entah kemana, saya lupa. Saya yang terhitung sebagai murid lumayan baru yang kebetulan duduk di bangku paling depan cuma bisa celingak-celinguk ngeliatin anak-anak lain yang pada seru mainan. Sampai kemudian teman sebangku saya menepuk-nepuk pundak saya.

"Hei yen, liat deh, Eko nangis tuh!" begitu bisiknya padaku.

Tentu saja kemudian saya langsung menoleh ke arah tempat duduk Eko. Dan disitulah dia, duduk bersandar pada tembok kelas, pandangannya menerawang ke arah luar  melalui pintu kelas, air matanya berlinangan. Anak-anak yang lain pun mulai menyadari peristiwa itu, seketika kelas heboh. Beberapa tampak kasihan dan penasaran apa sebabnya Eko menangis, sebagian lainnya menganggap itu menggelikan kemudian menertawakan sambil mengatainya cowok cengeng.

"Kenapa dia nangis?" saya bertanya pada teman yang menepuk bahu tadi. Teman saya cuma menggeleng sambil mengangkat bahu. Saya sendiri ga habis pikir, penderitaan hidup macam apa yang dia hadapi sehingga tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba menangis seperti itu.

Keriuhan kelas masih saja berlangsung, baik karena peristiwa Eko yang menangis maupun kehebohan yang sejak tadi dimulai karena tak ada guru di kelas, saat temanku memberi kabar. Rupanya setelah ditanya-tanya dan agak dipaksa-paksa anak-anak, Eko mau cerita apa gerangan penyebab dia menangis. Temanku mengatakan bahwa Eko menangis karena kangen pada cewek yang ditaksirnya. Lalu saya tanya pada temanku itu, memangnya cewek mana dan bagaimana yang ditaksir Eko itu. Teman saya jawab, cewek itu adalah Zaroh, anak kelas sebelah.

Saya spontan bilang HAH?! Ya kalau cuma kangen sama anak kelas sebelah aja sih kenapa harus pakai nangis segala gitu. Drama king banget. Kan tinggal samperin aja. Lalu teman saya bilang lagi kalau orang tua Zaroh ga suka sama Eko lah, ga ngebolehin Zaroh deket sama Eko lah dsb dsb. Well, makin lama saya makin merasa hidup dalam sinetron. Kita masih kelas 4 SD teman-teman, why so serious? Rasanya saya prihatin tapi juga pengen ketawa.

Kendatipun demikian saya masih tetap penasaran, bagaimana bisa Eko menangis seperti itu. Saya sudah tau alasannya sih, tapi saya masih belum paham perasaan macam apa yang dia rasakan hingga seperti itu. Kalian tahu, kadang manusia menyakiti diri sendiri untuk memahami rasa sakit orang lain. Saya mulai mengingat-ingat hal-hal sedih yang terjadi dalam hidup saya, kesedihan karena kangen orang yang saya sayang. Kebetulan waktu itu saya baru saja kehilangan nenek saya. Dan saya pun jadi nangis. Tapi ternyata beda. Saya tahu itu beda dengan apa yang dirasakan Eko.

Sekarang sudah lebih dari 10 tahun sejak kejadian itu. Kabar terakhir yang saya dengar mengenai Eko kurang menyenangkan, sepertinya dia ada masalah dengan narkoba. Sayang sekali. Tapi Eko, sepertinya sekarang saya tahu persis apa yang kamu rasakan waktu itu. Semoga kamu bisa kembali ke jalan yang benar.

Btw saat nulis entri ini, saya jadi inget pantun yang populer waktu SD dulu. Bunyinya begini :

Jangan menulis di atas kaca
Menulislah di atas meja
Jangan menangis karena cinta
Menangislah karena dosa

Lucu sekali.


Leave a Reply