Lembur

Sebagai pegawai yang lumayan tepat waktu (baca : datang agak telat, pulang tepat waktu), saya suka heran ngeliat mereka yang malah ga pulang-pulang padahal udah waktunya jam pulang.

Saya ga ngerti, itu emang bener kerjaannya banyak banget sehingga belum selesai atau cuma supaya keliatan rajin. Namun sekali lagi,  sebagai pegawai yang lumayan tepat waktu (baca : datang agak telat, pulang tepat waktu), saya jadi ga enak tiap kali mau pulang. Sekalipun posisinya jam pulang saya udah kelewat cukup jauh buat nutupin keterlambatan saya. Atau bahkan saat saya jadi yang paling pertama datang sekalipun perasaan ga enak itu masih ada. Secara mereka tampak lembur berjamaah gitu. Kesannya saya jadi satu-satunya pegawai yang ga loyal sama perusahaan

Satu hal yang sebenarnya salah dari kasus ini. Yaitu, dimana lembur dianggap sebagai tolok ukur loyalitas dan kerajinan. Kalau cuma itu aja sih ga terlalu salah. Kesalahan besarnya terletak pada bagian dimana semakin sering atau lama kamu lembur itu artinya kamu semakin rajin. 

Dimana letak salahnya?

Menurut pendapat saya, saat sebuah pekerjaan dilakukan dengan manajemen yang baik maka seharusnya pekerjaan tersebut dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Sehingga apabila kamu diberi waktu 9 jam sehari untuk menyelesaikan segala pekerjaanmu hari itu dan kamu mampu me-manage waktu serta pekerjaanmu dengan baik, maka saat waktunya jam pulang seharusnya kamu bisa langsung pulang. Kamu ga perlu lembur. Lembur hanya terjadi pada mereka yang suka membuang-buang jam kerja untuk hal yang tidak perlu, bergosip misalnya.

Well, ini berlaku untuk pekerjaan rutin jam kantor biasa aja ya. Untuk pekerjaan lapangan dan produksi masih banyak faktor lain yang mempengaruhi. Sekali lagi ini cuma pendapat pribadi saya sebagai pegawai yang lumayan tepat waktu.

Perbandingan


Orang biasa    : Dikasih 10. Dia terima 7
Orang pintar   : Dikasih 10. Dia terima 10
Orang bodoh  : Dikasih 10. Dia terima 3
Orang cerdas  : Dikasih 10. Dia terima 13
Orang dungu   : Dikasih 10. Dia terima 0
Orang perlu dilamar/ditunggu lamarannya : Dikasih 10. Dia terima 17. Bahkan 20.


Ngomong-ngomong ini entri apaan sih -,-

Panggilan Interview Paling Menyedihkan

Jadi ceritanya suatu hari saya diperintahkan untuk menelpon beberapa orang kandidat yang akan di interview dan di tes. Beberapa orang sudah berhasil dihubungi, beberapa lainnya gagal karena nomernya tidak aktif atau tidak diangkat, lalu tibalah pada giliran kandidat yang satu ini.

Awalnya saya hubungi nomer hp kandidat yang satu ini tapi ga aktif. Namun karena kebetulan dia menyantumkan nomer telpon rumah, maka kemudian saya telpon kerumahnya.

Setelah beberapa kali nada sambung, telpon diangkat, dan saya langsung saja menanyakan keberadaa  kandidat yang saya cari. Tapi begitu saya selesai menyebutkan namanya, suara mas-mas yang menjawab telpon saya yang rupanya adalah kakaknya itu berubah jadi agak bergetar. Dia bilang, "maaf bu, anaknya sudah ga ada".

Jegerrr!!!

Hah? Ga ada gimana ini maksudnya? Saya langsung buru-buru tanya maksud dia udah ga ada itu apa, sambil berharap sangkaan saya salah. Namun sayangnya saya benar. Arghh i hate when i am right buat hal-hal macam begini.

Rupanya kandidat yang mau saya hubungi itu baru saja meninggal karena kecelakaan kerja. Waktu saya telpon itu baru aja 7 hariannya. Hhh coba saya manggil dia lebih cepet, jadi dia ga perlu kerja ditempatnya kecelakaan itu, jadi sekarang dia masih hidup. Dia kan masih muda banget, baru aja lulus smk.

Sayang sekali.. *tisu..mana tisu..*