Asumsi

Sewaktu masih jadi SPG dulu(lagi-lagi haha), pernah ada hari dimana kedua penjaga counter sebelah pergi meeting ke kantornya, sehingga kemudian dikirimlah seorang pengganti untuk menjaga counter sebelah itu. Karena memang saya sudah pernah mengetahui sebelumnya dan pengganti yang dikirim pun sudah cukup sering dikirim kemari, saya pun sudah terbiasa dan sudah lumayan kenal, cukup kenal untuk bisa menghabiskan waktu bersama dengan saling mengobrol satu sama lain.

Maka seperti sebelum-sebelumnya, hari itu kami pun mengobrol. Pada dasarnya di sebagian besar waktu yang  kami habiskan bersama, saya seringnya cuma mendengarkan cerita si mbak kemudian memberi beberapa komentar. Hari itu pun tak jauh beda, kebetulan mbak yang jadi pengganti itu cukup banyak punya cerita dan pengalaman, sedangkan saya suka kalah cepet buat cerita haha. Dia bercerita banyak, mulai pengalaman di dunia kerja sampai kehidupan keluarga dan cerita tentang teman-temannya. 

Setelah bicara panjang lebar mengenai banyak hal, entah bagaimana mulanya, si mbak kemudian mengatakan bahwa dia lebih suka orang yang kelihatannya nakal/jahat/judes tapi sebenarnya baik dan jujur daripada orang yang berwajah kalem/baik/pendiam tapi ternyata jahat dan hasut. Dia mengatakan pernah menemui orang semacam itu. Saya cuma manggut-manggut sambil sesekali bilang 'iya ya' atau 'iya sih'.

Saya percaya jika seorang manusia melakukan sesuatu pasti ada alasannya, bahkan saat kalian mengatakan 'aku ingin melakukan hal itu tanpa alasan' adalah sudah merupakan sebuah alasan. Saya juga percaya dalam menerima dan memberi respon terhadap suatu hal manusia cenderung untuk terlebih dahulu berasumsi tentang suatu hal itu.

Dalam menanggapi tindakan atau cerita yang dikemukakan seseorang, saya berusaha membiasakan diri untuk sesedikit mungkin berasumsi dan bersikap netral, maka saya berasumsi si mbak tadi itu hanya sedang menceritakan tentang seorang temannya yang entah siapa, yang kemungkinan besar saya tidak kenal. Cuma sekedar curhat dan berbagi pandangan, tanpa tendensi apapun. Asumsi paling sederhana. Netral.

Tapi kemudian mbak itu mengulangi cerita itu lagi. Lebih tepatnya dia mengatakan pandangan dan perasaannya terhadap orang-orang berwajah jahat berhati baik dan orang-orang berwajah baik tapi berhati jahat, seperti yang dilakukannya tadi. Untuk ceritanya yang kedua kali ini saya berasumsi mungkin mbak ini mulai kehabisan bahan untuk dijadikan cerita, sehingga dia mengulangi cerita itu lagi. Sepertinya asumsi ini cukup netral.

Tapi kemudian mbak itu mengulangi lagi cerita itu untuk ketiga kalinya, berturut-turut. Saya mulai kesulitan mempertahankan kenetralan asumsi saya, dan mulai berpikir apa maksud dan tujuan mbak ini menceritakan hal ini pada saya? Sampai diulangi tiga kali begini lagi. Apa mungkin sebenarnya mbak ini bermaksud ingin menyindir saya? Saya mulai berprasangka buruk deh.

Saya sih tidak terpikir atau ingat dan merasa bahwa saya akan atau sudah melakukan hal semacam itu, khususnya kepada mbak itu.Tapi saya sadar saya manusia biasa yang mungkin saja melakukan kesalahan/hal buruk seperti yang diceritakan mbak itu tadi, baik secara sengaja ataupun tidak. Saya mencoba mengintrospeksi diri. Sayangnya sampai akhir saya tidak berhasil menemukannya. Entah emang ga ada atau saya yang terlalu tidak menyadari kesalahan.

Percakapan kecil yang kemudian meninggalkan saya dengan satu asumsi negatif dan satu pertanyaan yang belum terjawab, mungkin tak akan pernah terjawab. Bukan hal yang menyenangkan untuk dinikmati. Hal seperti begini-begini nih yang bikin saya tidak suka dari kegiatan sindir-menyindir, cenderung membuat orang berasumsi negatif. Bahkan saya pikir penyindiran itu sendiri pada dasarnya berangkat dari sebuah asumsi negatif kepada yang disindir. Lebih enak kalau langsung ngomong saja lah apa yang tidak kau suka.

Terlepas dari mbak itu beneran bermaksud menyindir saya atau tidak, saya memang sejahat itu atau tidak, saya jadi berpikir. Tampaknya mungkin sebenarnya manusia lebih sering terlukai oleh asumsi mereka daripada oleh kenyataan itu sendiri. Taruhlah misalnya saya benar adalah manusia berwajah kalem namun berhati jahat. Lalu kamu yang awalnya berasumsi bahwa saya baik karena melihat wajah saya menjadi terluka dan kecewa setelah mengetahui bahwa saya sebenarnya jahat. Sebenarnya itu bukan salah saya dong. Yang salah asumsi kamu. 

Apa saya salah punya muka kalem? Muka kalem kan bukan saya yang bikin, apa orang tua saya yang salah karena melahirkan saya dengan wajah kalem? Apa kakek nenek saya yang salah karena ngasih keturunan gen wajah kalem? Apa Tuhan yang salah karena menciptakan saya dengan wajah kalem?

Begitu juga saat saya merasa sakit hati karena merasa disindir sebagai orang berwajah kalem yang berhati jahat. Bisa jadi saya hanya sakit hati karena asumsi saya sendiri, padahal faktanya belum tentu begitu.

Seperti pepatah don’t judge a book by it’s cover, saat kamu mendapati buku jelek dengan cover bagus atau sebaliknya, apa bukunya yang salah? Tidak. Kamu yang salah, karena sudah menilai(baca:berasumsi tentang) isi buku dari hanya sampulnya.


Tentang Sebuah Nama : Yenny Hamida

Akhirnya giliran nama saya. Nama saya Yenny Hamida. Simpel ya? Tapi di balik ke-simpel-an itu ada cerita.

Duluuuu sekali, saat saya masih baru belajar menghafal nama lengkap, entah bagaimana saya bisa punya keyakinan kalau nama lengkap saya adalah Yenny Hamida Yulianti. Setiap ditanya teman siapa nama lengkapku, aku pasti menjawab kalau namaku Yenny Hamida Yulianti. Sampai suatu hari seseorang (sebut saja X) bertanya nama lengkapku, kira-kira begini percakapanku dengannya waktu itu.

X : Yen, siapa nama lengkapmu?

Aku : Yenny Hamida Yulianti.

X : Ah masa ada Yulianti-nya?

Aku: Iya. Emang namaku gitu.

X : Dapet darimana nama Yulianti?

Aku : Ya ga tau. Pokoknya namaku Yenny Hamida Yulianti.

X : Emang kenapa harus pake Yulianti coba?

Aku : Ya bagus lah. Coba aja dengerin Yenny Hamida Yulianti. Tuh cocok kan? Nih coba aku tanya tanteku ya. Tante nama lengkapku Yenny Hamida Yulianti kan ya?

Tante : Iya. Trus ada Plekenut-nya.

Aku : HAH?

Tante : Iya. Namamu Yenny Hamida Yulianti Plekenut.

Aku : Ih masa namaku pake Plekenut?!?! Ga mungkin! *mulai histeris*

Tante : *ketawa ngakak*

Aku : Ma, Namaku ga pake Plekenut kan ya??? (langsung buru2 nanya ke ibu)

Ibu : Iya ga pake. Tapi ga pake Yulianti juga. Cuma Yenny Hamida aja..

Aku : Loh kalau Yulianti-nya pake. Plekenut-nya engga. *tetep kekeuh*

Tante : Loh Plekenut-nya juga pake itu.. *kemudian ketawa-ketawa lagi*

Begitulah. Mungkin itu krisis jati diri pertama yang saya alami dalam hidup haha. Saat itu ga ada konklusi. Saya tetep ngotot punya nama Yulianti, dan tante saya masih terus ngegodain  bilang namaku ada Plekenut-nya.

Seiring waktu, usia saya makin bertambah, sudah mulai memasuki tahap belajar menulis nama sendiri. Saya sudah bisa terima kenyataan kalau nama saya cuma Yenny hamida. Satu kesalahan berhasil diperbaiki.

Tapi masih ada masalah lain. Waktu itu saya  masih diajari menuliskan nama saya dengan Yeni Hamidah. Jadi semua buku tulis dan buku pelajaran saya kasih nama Yeni Hamidah. Seiring berjalannya waktu, karena merasa agak kurang gaul atau mungkin karena bosan, saya coba-coba menulis nama saya dengan ejaan lain. Seperti Yenni, Yenny atau Yeny. Baru saat mulai menerima raport dan memperhatikan ejaan nama, saya tahu kalau nama saya tulisannya Yenny, bukan Yeni, Yenni ataupun Yeny. Satu kebenaran terungkap.

Berlanjut ke masa kelas 6 SD. Untuk keperluan pembuatan Ijazah, setiap murid diminta untuk memastikan ejaan namanya yang benar seperti apa. Teman-teman saya cukup banyak yang kemudian jadi galau, ragu namanya ditulis pakai huruf N-nya satu atau dua, pakai spasi atau tidak dan yang begitu-begitu itu. Termasuk saya juga ikutan galau, apalagi kalau melihat sejarah kontroversi nama saya. Hal yang bikin saya galau adalah soal penulisan nama belakang, apakah Hamida atau Hamidah?

Karena kasus itulah kemudian setiap murid di sekolah saya diminta mengumpulkan fotokopi Akte Kelahiran. Seumur-umur hidup saya waktu itu, saya sama sekali ga pernah liat Akte Kelahiran. Jangankan Akte Kelahiran saya, bentuknya pun saya sama sekali tidak tahu. Kata ibu Akte saya disimpan bapak, maka kemudian saya minta fotokopinya ke bapak. Setelah dapat Akte itulah, saya kembali mendapat pencerahan. Sejak saat itu menjadi jelaslah bahwa nama saya YENNY HAMIDA.

Namun walau saya sudah tahu, ternyata kalau ngasih tau orang tentang ejaan nama saya secara lisan masih susah. Coba aja dengan nama depan. Yenny, biasanya saya bakal bilang, huruf N-nya 2 trus pake Y ya. Instruksi yang pertama mungkin mudah diikuti, huruf N-nya 2, tapi instruksi yang kedua? Mereka terlanjur menganggap nama saya Yenni. Nama Yenni ya jelas pake Y lah, kalau ga pake Y itu mau mau jadi apa? Enni?? LOL. Orang suka ga paham kalau maksud saya pake Y itu di belakangnya. Alhasil banyak yang tetep salah tulis jadi Yenni, walau sudah saya kasih tau kalau huruf I-nya diganti pake Y.

Begitu juga dengan nama belakang. Hamida. Masih banyak yang masih suka salah tulis jadi Hamidah. Padahal saya udah ngasih tau. Hamida, ga pake H ya, atau Hamida tapi belakangnya ga pake H ya, gitu. Tapi ya sama kayak Yenny tadi, yang mereka denger cuma ga pake H-nya doang. Jatohnya yang nulis jadi bingung, Hamida ga pake H mau jadi apa? Amida??? Jadilah banyak yang masih suka kebablasan nulis jadi Hamidah LOL.

Padahal nama saya harusnya simpel. Cuma 2 kata. Cuma 5 suku kata. Tapi sampai sekarang masih saja selalu ada yang salah tulis, termasuk penulisan KTP, KK, SIM, Buku Tabungan. Di surat-surat penting itu nama saya masih ditulis Yenny Hamidah, dengan huruf H di belakang.

Pada akhirnya saya cuma bisa pasrah. Sama kayak hidup. Terserah apa pendapat dan kebenaran yang mereka tahu tentang nama saya, yang jelas nama saya tertulis sebagai YENNY HAMIDA. Bukan YENI. Bukan YENNI. Bukan YENY. Bukan HAMIDAH. Ga Pake YULIANTI. Apalagi PLEKENUT.