Kamu

Tak tahu malu?
Bukan, ini cuma usaha maksimalku.
Kalau memang harus berlalu.
Aku tak mau ada tugu.
Aku mau semua jadi abu.
Tertiup angin ke segala penjuru.
Tak ada lagi jejak atau bau.
Kalau memang tak cinta aku.
Diam-diam saja kau disitu.
Waktu pasti berlalu.
Begitu juga aku.
Kita semua hidup bersama waktu.
Semoga kelak masing-masing bahagia dengan yang baru


10 Days

Waktu yang kuberikan bagi diriku untuk dirimu tinggal 10 hari lagi.

Perjalanan Ke Barat

Awalnya saya tidak pernah mengira kalau cerita baru akan ditulis setelah selama ini. Dan awalnya saya juga tidak mengira bahwa karena saking lamanya cerita ini baru akan ditulis, membuat saya banyak lupa mengenai detil-detil perjalanan ini.

Perjalanan ke barat ini terjadi pada pertengahan tahun 2013, 2 hari setelah lebaran idul fitri. Tujuan awalnya sih untuk mengunjungi keluarga kakak pertama saya yang tinggal di Bandung. Memang selama ini kami belum pernah sekalipun mengunjungi kakak saya itu waktu lebaran. Biasanya kalau ga kakak saya yang pulang ke Surabaya, ya kita lebaran di kota masing-masing. Namun berhubung perjalanan kami ini sangat jauh (catatan: kami berangkat menggunakan mobil), rasanya agak sia-sia kalau cuma buat capek di jalan, rupanya kakak saya (baca: suami kakak kedua saya) sudah merencanakan serangkaian ziarah wali. Sementara saya, saya punya satu agenda rahasia.

Perjalanan di mulai pada pagi 3 syawal atau 10 agustus 2013 dalam kalender masehi. Subuh-subuh sekali kami semua mulai mandi dan memasukkan semua bekal ke dalam mobil. Anggota keluarga yang berangkat total ada 8 orang, terdiri dari: Ibu, kakak kedua beserta suami dan kedua anaknya, disusul tante dan anak laki-lakinya, dan yang terakhir aku. Penuh? Iya banget. Mulai dari bekal baju, bekal makanan dan minuman sampai bantal dan kasur.Untungnya mobil kami agak besar sehingga bagian belakangnya kita sulap jadi kamar mini dengan menggelar kasur tipis plus bantal.

Tujuan pertama, dimulai dari yang paling dekat, yakni sunan bungkul. Bagi yang belum tau, makamnya ada di taman bungkul Surabaya. Dari Bungkul seharusnya kami langsung ke makam sunan Ampel, namun karena ada sedikit keperluan kami harus mampir dulu ke Rungkut, baru lanjut ke Ampel. Dari Ampel kami langsung melanjutkan ke makam Maulana Malik Ibrahim. Selanjutnya makam sunan Giri, sunan Drajad, sunan Kudus, sunan Bonang, sunan Muria, Sunan Gunung Jati. Umm saya agak lupa namanya siapa aja dan urutannya seperti apa, mohon maklum itu sudah lebih dari setahun yang lalu.

Dari semua makam yang saya sebut tadi tidak semuanya benar-benar saya datangi. Maksudnya kita memang sudah ada di area makam tapi makamnya sendiri masih berada cukup jauh dan atau medan yang harus ditempuh juga tidak mudah. Seperti makam Sunan Muria yang dari tempat terakhir kita diperbolehkan naik mobil sampai ke makamnya masih harus naik motor lagi. Jalannya menuju kesana pun cukup curam sehingga hanya motor-motor tertentu saja yang bisa digunakan. Motor yang mesinnya lemah hampir bisa dipastikan ga akan kuat diajak nanjak. Jadinya yang naik ke makam cuma suami kakak saya saja.

Kami sempat mampir ke Masjid Agung Demak, sekedar buat numpang sholat dan istirahat. Sebelum sampai di rumah kakak, kami juga sempat mampir ke rumah teman dari suami kakak saya di daerah jawa barat yang punya pondok pesantren di situ. Yah sekali lagi sekadar buat silaturrahmi sekaligus numpang makan, mandi dan istirahat haha.

Tanggal 11 atau 12 nya kami sudah sampai di rumah kakak saya di bandung. Pinggiran kota bandung lebih tepatnya. Agak susah memperkirakan tanggalnya karena kami sampai pada waktu dini hari, jam-jamnya ganti tanggal. Yang aneh dari pertemuan keluarga jauh begini ini, padahal udah capek karena perjalanan yang jauh banget, tapi pas ketemu entah kenapa mesti ga bisa langsung tepar malah ngobrol-ngobrol panjang dulu sampai hampir subuh. Yahh namanya juga kangen mungkin ya.

Sedikit sekali waktu yang kami punya untuk jalan-jalan. Kurang lebih ada 3 hari yang bisa kami pakai untuk keliling tapi kami cuma berhasil pergi ke gunung tangkuban perahu sama ke makan malam bareng di salah satu mall di bandung sana. Sisanya kebanyakan waktu dipake buat istirahat, terutama suami kakakku. Soalnya dia sopir tunggal. Dari surabaya sampai bandung, jalan-jalan ke tangkuban perahu, dan lain-lain sampai perjalanan pulang dari bandung-surabaya itu dia semua yang nyetir. Ga ada pengganti. Jujur saya salut.

Kami sempet berencana buat ke Taman mini atau apa yang ada di jakarta, berhubung jakarta kan udah deket ya dari bandung dibanding dari surabaya, tapi ga jadi. Hal ini mempertimbangkan waktu liburan yang hanya sedikit dan juga kelelahan fisik keluarga saya. Saya sih pengen banget, terkait dengan agenda rahasia saya, tapi tidak, saya tidak bisa.

Lalu bagaimana dengan agenda rahasia saya itu?

Gagal. Tentu saja.

Karena tujuan agenda saya itu ada di jakarta. Perjalanan saya kurang ke barat.