Dikerjain Laptop

Mungkin. Saya orang yang mengidap OCD level rendah. Mungkin.

Karena untuk beberapa hal, saya merasa sangat terganggu sekali saat melihatnya salah, dan berusaha membenarkannya. Hanya beberapa. Dan terkadang masih bisa dikontrol lah. Selain itu, saya mungkin juga termasuk orang yang seleranya original. Seperti contoh, jika saya diminta untuk mengambil keripik chitato rasa apa saja untuk dimakan, kemungkinan besar saya akan memilih rasa original. Yang rasa cuma dikasih garam doang itu.

Nah begitu juga untuk pilihan tema tampilan laptop. Saya lebih suka yang original bawaan windows aja. Kebetulan yang sering saya pakai sekarang masih windows. Namun berhubung semua laptop yang saya pakai dirumah adalah bukan punya saya, maka kadang terjadi bentuk tampilan tidak seperti yang saya inginkan saat laptopnya saya pakai. Atau kondisi laptop tidak dalam keadaan yang semestinya. Banyak program-program sampah yang ter-install  oleh pemilik laptop yang asli.

Maka disinilah ke-OCD-an saya di uji #halah

Dalam kasus pemakaian laptop milik kakak saya, tindakan penyesuaian cukup mudah dilakukan. Jam terbang pemakaian mereka amat sangat jauh lebih sedikit daripada saya. Dan mereka tidak ada keinginan untuk ngoprek-ngoprek segala macem. Yang penting bisa ngetik, ngegame, nginternet. Udah.

Dalam kasus pemakaian laptop milik adik sepupu saya ini yang agak rempong. Dia kuliah informatika dan dia anak muda kelahiran 1993. Lagi waktunya pengen nyoba apapun dan gaya-gaya.

Jadi ceritanya sepupu saya ini pasang tema di laptopnya, tema racing-racing gitu. Tema ini mengubah tampilan wallpaper, taskbar, icon program/folder, bentuk kursor dan entah apalagi lah. Adik sepupu saya sih suka. Yaiyalah, ngapain dia pasang kalau dia ga suka. Tapi menurut saya ini sampah. Pertama, karena tampilannya menganggu dalam operasional laptop itu. Tulisannya ga kelihatan, bentuk icon yang susah dikenali, bentuk kursor yang ga asik padahal gambar temanya ga bagus-bagus amat. Kedua, buat apa pasang ginian. Ga guna. Buang-buang memory tapi manfaat terhadap fungsionalnya ga ada.

Dulu sih saya ga peduli, karena saya jarang butuh laptop sepupu saya itu. Jadi karena ga make ya buat apa saya oprek kan. Tapi akhir-akhir ini saya sering butuh, sehingga mau tidak mau saya peduli. Untungnya sekarang dia udah insyaf. Tema sudah dihilangkan. Namun sayangnya masih ada yang ketinggalan. Gambar icon-nya masih pakai yang bawaan tema. Ga mau ganti ke gambar icon default-nya. Entah kenapa.

Saya jadi risih dong. Gatel pengen ngeganti gambar icon-nya ke default sesegera mungkin. Saya udah sering ngeliatin pengaturan-pengaturan laptopnya yang kemungkinan bisa mengubah gambar icon kembali ke default, tapi ga bisa, dan ini terjadi berkali-kali. Sampai akhirnya suatu hari, saya buka lah itu control panel, cari-cari program yang dulu diinstal buat pasang tema. Ternyata udah ga ada. Saya cari-cari lagi dan akhirnya nemu ada program ter-instal dengan nama ada ‘theme’nya. Perkiraan saya, ini pasti bisa mengubah sesuatu. Segera saya uninstall program itu. Lalu saat ada perintah untuk restart, saya klik yes dan sesuatu benar berubah.

LAPTOPNYA JADI GA MAU BOOTING.

Alias laptopnya ga mau masuk ke sistem operasinya (OS). Yang artinya laptop ga bisa dipake. Saya langsung panik dong.

Saya oprek-oprek laptop itu semalaman tapi ga ada hasil. Mulai dari mencoba pilihan repair windows yang kadang bisa muncul kadang engga, sampai mencoba masuk pake safe mode dan mode-mode lainnya. Semuanya gagal. Tulisannya yang muncul pun ganti-ganti. Ada eror connection. Ada cannot read hardisk dll. Intinya sih ga bisa ngebaca hardisk. Entah karena file windows yang corrupt atau registry ada yang hilang dll. Saya coba browsing kebanyakan minta re-install OS-nya. Ini berat, karena saya ga punya installernya. Ada juga sih yang menyarankan untuk mengecek koneksi kabel hardisknya tapi saya ga berani buka casing laptop. Yang ada nanti malah bisa bongkar ga bisa balikin. Mati dah.

Besoknya dan besoknya lagi saya coba lagi. Tetap sama. Kemudian karena ada kesibukan, laptop itu sempat terabaikan beberapa hari. 

Sempat saya operator IT di kantor. Dia nanya, “..tapi masih bisa masuk BIOS kan mbak?”
Sial. Saya ga tahu yang dimaksud BIOS ini yang mana. LOL. “Iya, kayaknya mas”, saya jawab agak ga yakin.
“Yaudah sampeyan  lihat aja disitu dulu, hardisknya masih kebaca apa engga, kalo misalkan engga, berarti ada yang salah sama hardisknya. Bisa jadi kudu diganti.”
Wuduhhh denger kata ganti hardisk saya jadi ngeri. Sehingga langsung saya jawab, “OK deh mas, ntar saya lihat dulu dirumah.”

Sampai dirumah saya cek apa yang mas IT tadi bilang. Saya coba masuk ke apa yang saya yakini adalah BIOS tadi. Saya lihat disitu hardisknya masih kebaca. Jika memang benar apa yang saya lihat itu adalah di BIOS maka harusnya hardisk aman dan tidak perlu diganti. Saya lega. Tapi kemudian saya tepok jidat keras-keras. Bego. Kenapa saya ga nanya, kalo hardisknya masih kebaca trus laptopnya kudu diapain?!?!

Akhirnya saya ga bisa apa-apa lagi. Saya coba booting biasa hasilnya tetap sama.

Usaha terakhir, saya coba minta bantuan ke teman saya. Dia menawarkan untuk mengecek dan bila perlu nanti bantu re-install OS-nya juga. Terdengar sangat mencerahkan. Kita janjian buat ngeliat keadaan laptopnya esok hari. Malam itu, saya coba nyalakan laptop itu lagi beberapa kali, masih sama.

Pagi. Saya masukkan laptop ke dalam tas cangklong, karena ransel saya ada di rumah Rungkut. Dan karena ini tas cangklong, bukan slempang, maka waktu naik motor, laptopnya saya taruh di tempat kaki nya sepeda motor matic. Kasihan laptopnya sih kena guncangan tapi mau gimana lagi. Abis kalo dicangklong berat sih. Secara perjalanan saya lamanya 1 jam. Bisa-bisa nyampe tujuan langsung scoliosis kalo di cangklong.

Tapi memang kalo udah takdir kita ga bisa menghindar. Di setengah perjalanan di hari kerja yang tenang di musim kemarau malah turun hujan deras. Mau ga mau akhirnya saya cangklong laptopnya, daripada kena air hujan dan rusak sama sekali. Mana bukan laptop saya pula. Mau gantiin laptop pake duit daun apa gimana? Yang rusak ini aja masih belum selesai  kok mau cari tambahan masalah.
Singkat cerita, saya dan laptop sampai kantor dengan selamat. Lalu sepulang kerja saya ke perpustakaan sesuai janji dengan teman yang mau bantuin saya. Saya dateng duluan. Tak lama kemudian dia datang. Karena saya ga bisa basa-basi, langsung saya nyalain lah itu laptop supaya di cek. 

Nah disini ini (anti)klimaksnya. *JENG! JENG!*

Di layar muncul pilihan untuk repair OS dengan layar hitam. Sampai disini masih biasa. Kemaren saya juga udah bisa masuk sampai level ini. Saya pilih yes.
Then, guess what?

LAYAR BIRU WINDOWSNYA MUNCUL!

Saya ada di titik antara pengen sujud syukur dan pengen keplak laptopnya pada saat yang bersamaan. Sujud syukur karena akhirnya bisa masuk layar biru windows. Pengen keplak laptop karena kenapa ga dari kemaren-kemaren begini hah?!? Saya jadi ga enak sama temen saya yang udah jauh-jauh. Dan sekarang dia belum ngapa-ngapain, eh laptopnya udah mau sembuh sendiri.

Temen saya bilang, “Jangan seneng dulu. Yang begini ga selalu berhasil juga kok.”

Betul juga sih. Tapi feeling saya ini akan berhasil. Dan benar, beberapa puluh menit kemudian repair berhasil dan laptop sudah bisa menyala seperti sedia kala. Dan kau tahu hal yang paling menyebalkan berikutnya?

Icon tema yang membuat saya harus mengalami semua ini ternyata masih juga sama. Tak ada perubahan. Tetap tak bisa menjadi icon default windows. Semua usaha yang saya lakukan seperti tak ada artinya. Pedih..

---

Sekali lagi. Setelah berkali-kali dan banyak kali. Tuhan kembali mengingatkan dan mengajarkan pada saya untuk menerima takdir. Takdir bahwa aku harus men-cangklong laptop. Takdir bahwa aku harus terima keberadaan icon tema itu. Takdir bahwa aku harus terima kau tak cinta aku. #hloh

Hmmm apa mungkin sebenarnyanya masalah saya yang sesungguhnya bukan OCD ya? Tapi suka menentang takdir. Astaghfirullah..