Tribute to Inu : Kisah Seorang Anak Laki-Laki

Alkisah hiduplah seorang anak laki-laki. Ia adalah putra satu-satunya dari keluarga miskin. Ayahnya adalah seorang pekerja kasar dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Saking miskinnya, mereka sampai harus menakar makanan mereka agar semua bisa kebagian.

Suatu hari sang anak laki-laki menyadari, bahwa selama ini takaran makanan keluarga mereka tidaklah sama. Sang ayah selalu mendapat bagian yang lebih banyak dan lebih enak dibanding ibu dan dirinya. Heran melihat ini, sang anak bertanya kepada ibunya. 

"Bu, kenapa makanan bagian ayah lebih selalu lebih banyak dan lebih enak? Bukankah agar adil sebaiknya makanan dibagi rata?"
Sang ibu menjawab, "Nak, ayahmu mendapat bagian lebih banyak karena ia bekerja keras untuk menafkahi keluarga kita. Ia memerlukan banyak tenaga untuk pekerjaannya, karena itulah ia perlu makanan yang agak lebih banyak dan bergizi daripada kita berdua yang pekerjaannya tidak seberapa."

Mendengar jawaban ini, sang anak berpikir hal itu memang ada benarnya. Maka ia berusaha mengerti dan bersabar.

Waktu berlalu. Sang anak laki-laki sudah beranjak dewasa dan mulai bekerja. Pendidikannya tak tinggi akibat keadaan keluarganya yang miskin, sehingga akhirnya pekerjaannya pun tak jauh beda pekerjaan ayahnya dahulu, hanya sebagai pekerja kasar. Sementara itu sang ayah sekarang sudah renta dan sakit-sakitan. Ia sudah tak mampu bekerja lagi. 

Saat tiba waktunya makan, sang anak heran lagi. Bukankah sekarang dia yang bekerja keras untuk menafkahi keluarganya. Tapi kenapa ibunya tetap membagi makanan lebih banyak dan lebih enak kepada ayahnya? Ia pun menanyakan hal ini lagi kepada ibunya.

"Bu, kenapa ayah masih mendapat bagian makanan yang  lebih banyak dan lebih enak dari kita berdua? Bukankah sekarang yang bekerja menafkahi keluarga adalah aku? Seharusnya aku mendapat bagian lebih banyak bukan? Atau setidaknya dibagi sama rata lah.."
Sang ibu menjawab, "Nak, ayahmu sekarang sudah tua dan sakit-sakitan. Dia harus banyak makan makanan yang bergizi agar tetap sehat. Dan tidakkah kau kasihan melihat ayahmu yang usianya mungkin tidak lama lagi, biarkan dia setidaknya dapat menikmati makanan yang enak. Tidakkah kau ingin membuat ayahmu bahagia di akhir usianya? Dia sudah banyak bekerja keras selama hidupnya nak, demi menghidupi kita juga. "

Mendengar jawaban dari ibunya ini sang anak pun tersentuh. Ia tentu ingin berbakti juga pada ayahnya. Ia ingin ayahnya bahagia di akhir hidupnya. Setidaknya hanya makanan ini yang bisa ia berikan pada ayahnya, mengingat ia sendiri tidak dapat memberi terlalu banyak. Maka ia pun mengerti dan berusaha bersabar.

Waktu terus berlalu. Ayah dan ibu sang anak kini sudah meninggal. Sang anak sekarang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Namun pekerjaannya yang begitu-begitu saja rupanya memang tidak membuat banyak perubahan nasib pada keluarganya. Kehidupan keluarga masih miskin dan masih harus membagi makanan yang mereka miliki agar semuanya kebagian.

Tiba waktu makan, sang anak yang kini telah menjadi ayah mengamati bagaimana istrinya membagi makanan diantara mereka. Dia kembali heran. Di rumah ini dialah yang bekerja, sudah tidak ada lagi orang tua yang perlu diperhatikan kesehatannya, tapi kenapa dia masih tidak mendapatkan bagian makanan yang lebih banyak dan enak. Pembagian makanan paling banyak dan enak, oleh istrinya justru diberikan pada anak mereka. Diapun menanyakan hal ini pada istrinya.

"Istriku, kenapa kau membagi makanan yang lebih enak dan lebih banyak pada anak kita? Kenapa tidak padaku yang bekerja keras mencari nafkah atau setidaknya dibagi sama rata?"
Istrinya menjawab, "Suamiku, anak kita ini masih dalam masa pertumbuhan. Ia membutuhkan banyak makanan yang bergizi agar dapat tumbuh besar, sehat dan juga pintar. Kalau dia pintar, mungkin kelak anak kita dapat mengubah nasib keluarga ini menjadi lebih baik. Lagipula kasihan jika dia kelaparan. Kita yang sudah dewasa tentu sudah lebih mampu menahan lapar dibanding dia yang masih kecil."

Dia cukup puas mendengar jawaban istrinya. Dia memang ingin anaknya dapat tumbuh sehat dan pintar, tentu ingin pula agar nasib keluarganya kelak menjadi lebih baik. Lagipula benar kata istrinya, kasihan bila nanti anaknya kelaparan. Kalau dia sih, dia sudah terbiasa kelaparan. Maka dia pun kembali berusaha mengerti dan bersabar.

Waktu masih terus bergulir. Kini ia sudah semakin tua, sakit-sakitan dan tak mampu bekerja lagi. Anaknya sudah mulai bekerja, namun sayangnya nasib mereka masih tidak banyak berubah. Anaknya masih meneruskan pekerjaan menjadi pekerja kasar, sehingga mereka masih harus membagi makanan mereka agar semuanya kebagian. Namun ada satu hal yang masih tak dapat dia mengerti. 

Kini ia sudah tua dan sakit-sakitan. Anaknya sudah tumbuh besar dan tentu mampu menahan lapar. Kenapa istrinya masih membagi makanan yang lebih enak dan lebih banyak pada anak mereka? Apakah istrinya tak ingin ia menikmati masa tuanya dengan memberinya makanan yang enak dan sedikit lebih banyak? Akhirnya ia kembali bertanya pada istrinya.

"Istriku, anak kita sekarang sudah dewasa, sudah mampu menahan rasa laparnya. Dan ia juga nyatanya masih tidak dapat merubah nasib keluarga kita. Kenapa engkau masih membagikan makanan yang lebih enak dan juga lebih banyak padanya?"
Istrinya menjawab, "Suamiku, engkau kini sudah sakit teramat parah. Walau sebanyak apapun makanan yang aku berikan, engkau mungkin tak akan dapat sehat seperti dahulu lagi, begitu juga aku. Untuk itu, kenapa kita tidak memberikan jatah makanan yang lebih banyak dan lebih enak kepada anak kita yang masih sehat saja. Agar dia dapat hidup lebih lama. Toh kita juga masih mendapatkan makanan dengan cukup."

Jawaban istrinya ini rupanya cukup masuk akal menurutnya. Untuk apalah mengsia-siakan makanan lebih banyak untuknya yang sebentar lagi akan mati. Lebih baik makanan itu bermanfaat untuk mereka yang masih sehat dan dapat hidup lebih lama. Maka dia pun setuju. Mengerti. Dan bersabar. Sampai ajal menjemputnya.

TAMAT

*) Diceritakan kembali dengan perubahan. Karena beberapa part ada yang saya lupa.

---

Saat saya sangat menyukai seseorang. Biasanya saya akan memintanya untuk menceritakan sesuatu. Apapun. Karena saya ingin mendengar semua cerita yang dia miliki. Saya ingin lebih mengerti dia. Saya ingin memahaminya.

Dan cerita ini adalah salah satu cerita yang diceritakan inu pada saya.
Inu adalah teman yang saya kenal dari room chat jepang yahoo messenger. Jaman baheula banget dah dan itu kenalnya juga konyol banget. Saya mengenalnya sejak lulus SMA sampai cukup lama mungkin ada sekitar lebih dari 4 tahun. Namun sayangnya kita berdua belum pernah bertemu sampai detik ini. Bahkan foto pun juga belum pernah tukeran. Saya cuma pernah liat profil picturenya sekali dan itu juga kecil banget hampir ga keliatan mukanya. Dan aku, seperti kalian tahu hampir tidak pernah memasang foto wajah asli, walau katanya dia pernah liat fotoku dan bilang wajahku mirip wajah pemeran Saras 008. Entahlah.

Sekarang sih sudah ga pernah kontak lagi. Semoga dia berbahagia selalu.