Sabar

A long time ago in a galaxy far away...

Eh bukan. Itu kan intro-nya star wars.

Dahulu kala, saya menyimpulkan secara pribadi, bahwa inti dari hidup sebagai manusia ciptaan Tuhan (utamanya Allah) ini adalah sabar. Tentu saja orang lain bisa beranggapan beda, karena memang sekali lagi saya bilang ini adalah kesimpulan pribadi saya, dan saya punya alasan sendiri, sebagaimana orang lain memiliki alasan atas kesimpulannya tentang kehidupan.

Well, walaupun sesungguhnya saya berhak untuk menyimpan alasan saya, dan kalian juga mungkin tidak mau tahu. Apapun itu, saya ingin menulisnya.

Saya mengatakan sesungguhnya hidup adalah sabar. 

Kenapa?

Karena sesungguhnya sabar ada di setiap lini kehidupan kita. 

Kita lihat saja dari sejarah awal penciptaan manusia, nabi Adam. Apa ujian terbesarnya bersama Hawa? Dilarang makan buah Quldi. Tentu butuh kesabaran yang amat sangat besar untuk melihat buah yang tampak lezat berada di hadapanmu setiap hari tanpa boleh memakannya, bahkan sekedar mendekatinya pun tak boleh. Belum lagi ditambah dengan rasa ingin tahu dan lain-lain. Oh dan jangan lupa seingat saya larangan tersebut berlaku tanpa batas waktu. Bayangkan kesabaran sebesar apa yang dapat melampaui ujian itu.

Dan faktanya memang nabi Adam gagal. Lalu ada kita di dunia ini.

Namun ujian masih belum berakhir. Sebelum kita manusia generasi kedua dan seterusnya terlahir, ada yang ingat berapa lama harus menunggu?

Ingat sih tidak. tapi kita tahu itu normalnya 9 bulan. Kalian merasa di uji kesabarannya? Sepertinya sih tidak, tapi ibu kalian pasti tahu bagaimana rasanya harus bersabar menunggu selama 9 bulan. Saya belum pernah hamil sih, tapi saya yakin itu berat.

Lalu setelah lahir, orang tua kalian masih harus bersabar lagi membesarkan kalian. Memberi makan, begadang kalau kalian sakit atau minta ASI, mengajari bicara, berjalan, mendidik agar berilmu dan berakhlak dan lain sebagainya hingga tak terhitung. Itu kesabaran yang tidak sedikit.

Dan kalian sendiri? Kalian sadari atau tidak, dalam setiap pembelajaran yang kalian alami dari lahir semuanya memiliki porsi kesabaran masing-masing. Kalian harus bersabar hanya dapat menangis saat belum dapat bicara. Kalian harus bersabar hanya dapat duduk saja saat belum bisa berdiri. Kalian harus bersabar hanya dapat merangkak saat belum bisa berjalan. Kalian harus bersabar mendapat uang saku pas-pasan saat belum memiliki penghasilan sendiri dan beribu proses kehidupan lainnya.

Kalau kita lihat dari ibadah pun. Kita ambil rukun islam coba. pertama baca syahadat, yaa mungkin disini ga ada aspek sabarnya ya, karena ini kan semacam ikrar, janji kita bukan kegiatan yang begitulah. Lanjut ke sholat, kesabaran ada disaat kita harus bangun saat enak-enaknya tidur, saat kita harus kedinginan kena air wudhu, saat harus menyempatkan waktu di tengah pekerjaan yang sibuk, di tengah medan yang sulit entah tak ada air atau apa dan banyak hal lain. Sabar ada dalam sholat.

Next, zakat. Tentu saja dibutuhkan kesabaran yang besar untuk rela memberikan hasil usaha susah payah kita kepada orang lain begitu saja. Loh itu kan ikhlas? Tidakkah kamu merasa bahwa ikhlas akan kehilangan artinya jika tak sabar? Saya berpendapat orang ikhlas pasti sudah bersabar, tapi orang sabar belum tentu sudah ikhlas.

Next again, puasa. Sudah jamak dikumandangkan kemana-mana bahwa puasa adalah ujian kesabaran. Menahan diri hawa nafsu, bukankah itu sabar?

Terakhir, haji. Dulu kita orang Indonesia perlu waktu berbulan-bulan bahkan tahun hanya untuk naik haji. Tidak diragukan itu sangat butuh kesabaran. Trus sekarang kan sudah bisa cepat? Tentu. Tapi walau hanya untuk perjalanan beberapa jam itu pun kita masih perlu mengurus segala surat-surat, berdesakan saat thawaf dan hal lain sebagainya yang tetap butuh kesabaran ekstra. Belum lagi bagi sebagian orang, mungkin perjalanan hajinya total cuma 3 minggu atau sebulan, tapi nabung duitnya perlu waktu 15 tahun. Dan dibalik nabung itu sendiri ada kerja kerja dan kehidupan yang tidak mudah untuk dihadapi.

Sebenarnya masih panjang yang mau saya tulis, tapi sekarang sudah jam 21.23, saya harus segera mandi. Saya terlalu lama bersabar sepertinya LOL.

Kapan-kapan kalau sempat dan tidak lupa akan saya sambung. tulisan ini


4 Responses so far.

  1. Huda Tula says:

    Bahkan ketika masih di surga pun Adam dituntut bersabar. Hmmmm...


    Kamu mandi jam setengah sebelas malam???

  2. YeN says:

    Jam setengah sepuluh mas..bukan sebelas.

  3. Huda Tula says:

    Kalau di waktu indonesia tengah, saat itu sudah jam setengah sebelas

Leave a Reply