MAMA

Sebenarnya saya mau membuat tulisan ini menjadi tulisan yang megah, indah dan penuh makna untuk beliau, tapi berhubung yang nulis adalah cuma penulis payah seperti saya, mungkin itu akan sulit diwujudkan.

Tulisan ini saya persembahkan untuk Ibu saya, biasa saya panggil mama, yang meninggal tanggal 5 Juli 2016, tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Beliau lahir pada tanggal 11 November 1963 di Kota Palembang dari Ayah seorang pedagang dan Ibu seorang guru. Namun kedua orang tuanya berpisah saat usia mama masih sangat muda, sehingga pada usia 2 atau 3 tahun ibunya menikah kembali dengan seorang tukang masak (koki) masakan Padang. Beberapa tahun kemudian, saat ibunya sedang mengandung anak ke-3 dari Ayah tirinya, mereka sekeluarga pindah ke Surabaya. Ayah tirinya kemudian menjadi tukang masak no. 1 di rumah makan masakan Padang ternama di Surabaya pada masa itu.

Mama kemudian tumbuh remaja bersama 2 kakak laki-laki yang dibawa Ayah tirinya dari pernikahan sebelumnya dan 3 orang adik, 2 perempuan dan 1 laki-laki, dari pernikahan ibu kandung dan Ayah tirinya.

Menginjak kelas 3 SMA beliau kemudian memutuskan untuk menikah dengan gurunya sewaktu SMP dulu, orang inilah yang kemudian menjadi bapak saya, dan aku memanggilnya papa.

Berbeda dari prasangkaan banyak orang, mama menikah di usia yang sangat muda, bahkan saat masih sekolah, bukanlah karena hamil duluan atau dipaksa orang tua macam Siti Nurbaya. Namun apa alasan pastinya saya juga kurang tahu, kemungkinan besar adalah karena mama ingin segera dapat hidup sendiri tanpa merepotkan orang tua lagi.

Iya, mama adalah orang yang tidak suka merepotkan orang lain. Mungkin itu sebabnya yang kemudian juga membuat beliau menjadi orang yang serba bisa. Beliau orang paling serba bisa yang saya kenal. Beliau bisa masak aneka masakan, mulai dari masakan padang, masakan jawa dan aneka masakan nusantara dan masakan untuk acara-acara spesial lainnya. Beliau juga bisa menjahit, dulu setiap kali lebaran saya akan dijahitkan beberapa baju yang kadang lucu kadang eksentrik.

Kehidupan mama memang tidak se-menderita orang-orang yang biasa muncul di acara reality show, tapi bisa saya katakan kehidupan mama penuh dengan pengorbanan dan perjuangan yang tidak mudah. 

Mama di mata saya, adalah orang yang sabar. Beliau juga lucu dan berpandangan terbuka.

Kepergian beliau adalah suatu kehilangan besar, mungkin yang terbesar sepanjang hidup saya sampai saat ini.

Satu hal yang paling menyesakkan dari kepergian beliau adalah bahwa saya belum cukup melakukan banyak hal untuk membahagiakan beliau, malah mungkin justru saya banyak membebani dan menyakiti beliau, baik fisik maupun pikiran.  

Seusai pemakaman, ada seseorang yang mencoba menghibur dengan mengatakan, sudah jangan sedih dan ditangisi paling tidak kan kalian sudah merawatnya saat sakitnya sebelum meninggal. Dan saya seperti pengen nyolot, merawat apaan semua itu masih belum cukup baik dibanding perawatan yang beliau berikan kepada kami! Bagaimana kami bisa berhenti bersedih dan menganggap semuanya seakan sudah impas. Tidak. Tidak bisa. Bahkan sampai terakhir sebelum beliau jatuh sakit, beliau masih menyuapi saya sarapan dengan telaten karena saya buru-buru, sedang saya menyuapi beliau seringkali dengan ogah-ogahan saat beliau sakit. Saya tidak terima!

Semalam saya mengganti sprei kasur tempat kami biasanya tidur bersama, baru saya sadari, ternyata sprei dan sarung bantal yang kami miliki sudah sangat usang, ternyata memberikan kebahagiaan sesederhana membelikan sprei baru saat beliau masih hidup pun saya tidak mampu.

Lalu saya teringat mimpi yang saya dapat beberapa waktu sebelum beliau meninggal. Dalam mimpi itu beliau meminta saya untuk mengantarkannya pulang, dan saya seperti biasa selalu ogah-ogahan dengan alasan masih capek. Sial, bahkan dalam mimpi pun saya gagal membahagiakan beliau.

Dasar bodoh kamu yen.

Ternyata benar daripada disebut tulisan yang megah dan penuh makna, entry ini jadi lebih seperti catatan penyesalan saya. Sekarang satu-satunya keinginan saya untuk beliau adalah agar beliau dapat bahagia setelah kematiannya. Bahagia sebahagia-bahagianya. Bila perlu akan saya bagi jatah bahagia saya kelak jika saya memilikinya, karena mungkin itupun masih akan kurang.

Kau tahu, yang paling menakutkan di dunia ini bukanlah kematian, melainkan penyesalan.

Akhir-Akhir Ini

Akhir-akhir ini rasanya saya menjadi orang yang semakin mudah marah. Well, frasa 'akhir-akhir ini' bukan dimaksudkan cuma sehari atau dua hari, seminggu atau dua minggu. Yaaa kira-kira hitungan bulan lah. 

Saya juga ga ngerti kenapa. 

Apa karena memang persoalan hidup yang semakin banyak dan sulit dijalani atau karena saya yang sudah semakin menjadi tua dan menyebalkan?

Hmm mungkin yang terakhir lebih pas.

Konsep

Dalam perjalanan dari mesin scan ke meja kerja, tiba-tiba saya menyadari sesuatu. Dalam hidup bukan hanya tujuan yang penting. Kita juga butuh konsep.

Dan saya menyadari bahwa saya telah banyak kehilangan konsep, selain sisanya yang memang belum terkonsep dengan benar.

Lalu setelah bekerja beberapa saat, saya melihatnya, dan semua sisa konsep yang masih saya miliki jadi berantakan.

Kemudian saya membuat tulisan ini. Menuliskan kata konsep berkali-kali membuat saya kehilangan maknanya.

Jadi sekarang konsep itu apa?

*telen ludah

Plat Nomer

Selama masa penantian jadinya plat nomer motor, saya dengan lumayan sungguh-sungguh berdoa agar supaya tidak mendapat plat nomer dengan kombinasi huruf akhir YS, SY, YY, EX, U, US, Y, YN, X, YL dan NT.

Setelah beberapa minggu, plat nomer jadi dengan huruf akhir B.

Tuhan memang suka sekali bercanda.

Yakin

Sewaktu kelas XII SMA, di suatu hari pertama pelaksanaan ujian tengah semester eh atau ujian akhir semester, entahlah saya agak lupa. Singkatnya hari itu saya terlambat datang ke sekolah dan lupa kalau hari itu ujiannya menggunakan lembar jawaban komputer, sehingga saya tidak membawa pensil 2B yang diperlukan untuk mengisi lembar jawaban ujian. Sialnya saya baru menyadari hal itu setelah duduk di dalam ruang ujian.

Kondisi saat saya masuk kelas sudah cukup agak kacau, karena ujian sudah berlangsung lalu saya dan beberapa siswa lain yang juga terlambat masuk sehingga timbul sedikit kegaduhan dan mungkin memecah konsentrasi mereka. Saya jadi merasa tidak enak sih, jadi waktu sadar tidak membawa pensil saya tidak berusaha meminjam ke siswa yang sedang mengerjakan ujian, saya ga mau ganggu konsentrasi mereka. Saya coba meminjam ke siswa yang sama-sama terlambat, tapi mereka semua mengatakan cuma membawa 1 pensil saja.

Saya sempat terpikir mau pinjam ke guru penjaga, tapi kemudian membayangkan dimarahi lalu membuat seisi kelas jadi gaduh membuat saya mengurungkan niat. Mending kalau kemudian gurunya punya pensil, kalau tidak ya cuma bakal buang waktu, bagi saya ataupun siswa lain yang juga terganggu.

Akhirnya, entah paginya saya makan apa sampai bisa muncul keyakinan untuk mengisi lembar jawabannya menggunakan bolpen.

Logika saya begini : Saya sering mendengar bahwa kalau mengisi lembar jawaban komputer harus tebal dan benar-benar hitam, karena kalau tipis nanti tidak terbaca dan dianggap tidak ada jawabannya. Nah kalau pakai bolpen kan lebih hitam dari pensil, maka seharusnya saat diperiksa nanti akan tetap terbaca. Diperiksanya setahu saya menggunakan alat seperti scanner kan. Harusnya dengan bolpen akan lebih jelas, hanya saja saya jadi tidak bisa mengganti jawaban karena tidak bisa dihapus.

Sekilas tampak benar, maka selama waktu yang tersisa dengan yakin saya mengerjakan soal ujian sampai selesai menggunakan bolpen.

Ujian selesai. Waktunya jam istirahat. Lalu tidak lama kemudian nama saya dipanggil lewat speaker sekolah, diminta untuk segera datang ke ruang guru. Rupanya saya dipanggil gara-gara lembar jawaban komputer yang saya tulis pakai bolpen itu lalu saya diminta untuk menyalin jawaban saya sebelumnya ke lembar jawaban baru menggunakan pensil 2B yang mereka pinjami.

Guru saya ga marah sih, malah sepertinya mereka terlihat prihatin. Kok ya cantik-cantik tapi error. Yang setuju saya cantik cuma saya, tapi yang setuju saya error banyak hahahalupakan.

Jadi mungkin kamu ini seperti bolpen. Saya yakin bisa dengan bolpen tapi sepertinya keyakinan saya ini hanya berdasarkan pembenaran-pembenaran tak masuk akal.
Yasudah saya cari pensil 2B saja.
#apasih

Sh*t Story

Sekali atau dua kali terkadang saya kita terpaksa untuk pup di kantor. But..
..one does not simply about pup di kantor saya adalah soal pengairannya.

Pengairan di kantor saya konvensional sih, seperti yang banyak diterapkan di mall atau bangunan besar lainnya. Jadi air dari kran PDAM di bawah / sumur / sumber air apapun yang biasanya selalu ada di bawah di pompa ke tandon air yang diletakkan di atas gedung. Kemudian melalui pipa-pipa, air tersebut akan dialirkan menuju keran air atau toilet-toilet yang ada di bawahnya hanya dengan mengandalkan gaya gravitasi.

Jika toiletnya cuma ada satu atau yang sedang pup hanya kamu, maka pengairan konvensional seperti itu tidak akan menjadi masalah. Namun tentu saja, di bangunan sebesar kantor, tidak mungkin toilet hanya ada satu dan tidak ada yang bisa menjamin tak terjadi pup secara bersamaan antar toilet.

Satu kemungkinan buruk yang tidak diinginkan namun sering terjadi adalah saat kamu selesai pup, pencet tombol flush tapi airnya ga keluar lantaran di bilik toilet lain ada yang flush lebih dulu atau keran air lain banyak yang sedang dibuka sehingga tekanan air untuk flush kurang dan t*i-nya ga bisa hilang dengan sempurna.

Kadang saya kebetulan mengalami hal ini, 
Lalu sebel pup-nya ga ilang-ilang, 
Lalu dengan kesal bilang "Akh, t*i lu!"
Lalu ngakak sendiri di toilet.

Yagimana, ngatain t*i ke yang emang t*i...



Hari Pertama Puasa : Semangat VS Lemes

"Hari pertama puasa kok semangat amat sih?"

Ini pertanyaan yang aneh, sebab justru karena baru hari pertama itulah kenapa kita jadi masih semangat.

Saya sering dengar beberapa orang mengatakan dan bahkan kadang juga ikut me-iya-kan (disinilah begonya saya, makanya akhirnya bikin tulisan ini buat reminder) kalau biasanya bakalan lemes pas hari pertama puasa ramadhan. Alasannya sih karena masih kaget, belum penyesuaian setelah lama tidak puasa.

Tapi dari pengalaman pribadi saya sejauh ini justru hari pertama itulah puasa ramadhan yang paling semangat. Alasannya pertama karena kita masih excited, kedua karena badan kita masih punya banyak cadangan makanan dari hari-hari kemarin saat tidak puasa. Nah makin lama cadangan makanan di badan kan makin habis, jam tidur juga makin kurang biasanya, ini yang bikin makin lama makin lemes.

Udah kayak jatuh cinta gitu. Saat awal-awal berbunga-bunga banget karena masih excited dan stok cintanya masih banyak, lama-kelamaan bisa bosen dan stok cintanya abis karena ga pernah dikasih perhatian.

Yaa setidaknya itu yang saya rasain sih
Kalau menurut kamu?

May Disaster

Sungguh.
Saya ga ngerti ada apa sama bulan Mei tahun ini.

Menjelang bulan Mei, HP Samsung Galaxy Young, yang sudah menemani saya stalking melanglang buana selama lebih dari 3 tahun rusak. Awalnya sempat di diagnosa ada masalah di softwarenya, kemudian mas-mas tukang servis menawarkan untuk di-'software'-in, dengan ancaman mati total apabila gagal. Saya iyain aja, karena toh pilihannya cuma ada 2 yaitu ga bisa dipakai karena ga di-'software'-in atau ga bisa dipakai karena gagal 'software'. Iya, adalah sebuah keajaiban kalau HP saya bisa sehat kembali. Dan memang akhirnya gagal sih.

3 hari setelah HP saya rusak, mama saya masuk RS. Beliau opname. Dan kemudian dipastikan terkena stroke serangan kedua. Kalau waktu serangan pertama dulu karena ada pecah pembuluh darah, kali ini stroke-nya disebabkan penyumbatan pembuluh darah.

Untungnya waktu mama saya opname bertepatan dengan saat kakak pertama saya yang di Bandung pulang, jadi beliau ada yang nungguin di rumah sakit. Dan begitu kakak saya balik, kebetulan sekali bertepatan dengan liburan panjang 4 hari, jadi saya bisa gantian nungguin di rumah sakit. Dan begitu liburan panjangnya habis, mama saya sudah boleh pulang sama dokternya. Alhamdulillah banget.

Tapi...

Akibatnya rencana liburan ke Jakarta saya batal~
Eh bukan Jakarta ding, Pulau Tidung maksudnya.

Lalu...

3 hari setelah mama saya opname. My BF ngambek. Iyes, my Blue Friend alias motor kesayangan yang suka rewel kali ini beneran ngambek dan ga ada obat. Dia sama sekali ga mau dinyalain, setelah sebelumnya sempat macet starter tangannya dan bocor selang bensinnya. Dia sampai aku parkir di rumah sakit seminggu lebih dan baru bisa jemput setelah ditolongin kakak saya dan temannya, trus diservis, trus dianterin ke rumah. Kirain udah sembuh, eh ternyata masih susah nyala dan bocor bensin lagi. Sampai tulisan ini dibuat, dia masih belum sehat.

Sementara itu..

Kerjaan di kantor lagi sibuk-sibuknya.
Mulai dari ngurusin audit internal, management review, audit SMK3, audit BLH, audit management ISO, audit khusus trafo, audit dari customer, pindahan meja dan lemari dokumen.
Kesibukan kerja udah sampai level ga tau mau ngerjain yang mana dulu.
Semuanya tumpah ruah.

But it's alright.

I'm trying to be cool dengan terbelinya HP baru.
Walau dengan cicilan pakai kartu kredit sepupu saya.

Namun...

HP belum ada sebulan. Tagihan kartu kredit belum juga keluar. HP nya udah ilang.
Rasanya aku mau nangis sekebon.

Trus besoknya jatuh dari motor pinjeman pula.

...dan sekarang kejebak hujan di kantor.

Really.

*lap ingus*


2015

Ini entri kaleidoskop tahun 2015. Telat sih, tapi peduli amat.

Tahun 2015 adalah tahun yang cukup spektakuler buat saya. Banyak hal besar terjadi, baik yang baik maupun yang kurang baik. Yasudah biar gampang, dibikin nomer-nomer gitu aja lah ya.

1. Pertengahan Januari, ibu saya jatuh sakit. Beliau tiba-tiba terkena stroke akibat pecah pembuluh darah, sehingga mengakibatkan tubuh bagian kirinya lumpuh. Alhamdulillah sekarang sudah sehat, hanya tinggal pemulihan anggota gerak yang lumpuh saja, masih bertahap. Kadang masih sedih sih kalau ingat biasanya sebelum berangkat kerja ibu yang nyuapin sarapan, sekarang giliran saya yang nyuapin ibu.

2. Karena kejadian ibu sakit tadi, saya jadi harus kembali beberapa kali pindah rumah. Pertama sempet tinggal di rumah sakit sebulan. Terus pindah ke rumah tante di dekat Tanggulangin. Terakhir, balik ke rumah kakak saya yang di Driyorejo. Padahal saya sudah lama pengen tinggal di satu tempat saja. Iya, bahkan tinggal dihatimu pun masih juga tak bisa. #eh #apasih

3. Sekarang bagian menyenangkannya. Tahun ini saya berkesempatan untuk nge-trip ke beberapa tempat. Seperti yang sudah saya tulis di entri beberapa waktu lalu, saya bisa jalan-jalan ke Bandung bareng teman-teman sekantor. Mau tahu menyenangkannya sebelah mana? Baca aja disini.

4. Lanjut. Trip kedua adalah mendaki gunung Semeru. Ini pertama kalinya dalam seumur hidup saya benar-benar mendaki. Awalnya saya ga tahu, tapi setelah pulang mendaki, saya baru ngeh kalau baru saja mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa sekaligus no. 7 tertinggi di Indonesia. Saya merasa awesome hahaha. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini.

5. Trip ketiga. Ini hutang jalan-jalan sejak tahun lalu. Saya berhasil datang ke Jakarta. Karena budget dan waktu yang terbatas, jadinya cuma muter-muter kota Jakarta naik KRL aja sih. Ntar saya tulisin ceritanya disini kalau sempat.

6. Waktu ke Jakarta dikasih oleh-oleh ini sama kakak @tandatawang :p

7. Kembali ke kabar buruk. My partner in crime di kantor, Mbapit, dipecat. Tidak benar-benar dipecat sih, tapi kontraknya tak diperpanjang lagi. Padahal saya udah paling cocok sama dia kalau di kantor. Kita juga satu bagian, sama-sama admin pula. Kamu tahu hal yang paling menyedihkan dari kejadian ini? Adalah bahwa kelebihanmu lah yang justru menjerumuskan rekanmu ke dalam situasi sulit. Kita sama-sama admin di bagian yang sama, hal ini lama-kelamaan terlihat seperti kesia-siaan sehingga atasan melakukan pengurangan, tentu yang lebih baik yang dipertahankan. Lalu kalian tahu bagaimana endingnya. Rasanya saya pengen bejek-bejek sesuatu waktu itu. Mungkin sekarang juga masih sih kalau pas ingat-ingat lagi. They make me feel like an ass-kisser with those decision. Sungguh sangat disesalkan.

8. Ada employee gathering di kantor. Harusnya sih menyenangkan. Tapi tanpa mbapit jadi agak-agak hampa. Secara sejak awal tahun kami sudah berencana untuk seru-seruan bareng pas gathering. Eh ternyata jodoh kita di kantor yang sama tak sampai segitu.

9. Kalian tahu si engineer unyu? Setelah beberapa kali nge-trip bareng dan bahkan satu tim sewaktu employee gathering, ternyata belum bisa menjadikan kita semakin dekat. Dia-nya malah jadi lebih deket dengan cewek yang aku ajak naik semeru untuk nemenin aku. Ngerti gitu saya ga ajakin deh hahaha. Sial :"))

Eh kamu, gausah ketawa seneng gitu deh.

10. Somehow, ditutupnya pendakian Rinjani membuatku senang. Iya, saya jahat.

11. Banyak teman kantor saya yang resign ataupun di resign-kan. Bagaimanapun ini menyedihkan.

12. Dapet kado ulang tahun dari mas Huda Tula ehehehe. Tapi kadonya masih belum nyampe. Lah maksudnya gimana? Ya maksudnya gitu lah. Terima kasihnya ntar kalau udah nyampe aja ya mas haha.

13. Hmm apalagi yaa..gaji UMR naik? Hahahah ini penting banget bagi kami para buruh.

Yahh mungkin segitu aja dulu. 
Semoga tahun 2016 jadi tahun yang lebih baik.
Keep strong everybody.
Semoga selalu berbahagia :D


Mahameru

Dulu saat saya ditanya, kamu lebih suka gunung atau pantai?
Dengan mantap saya akan menjawabnya, gunung.

Yang ngehe' adalah saat kemudian pertanyaan berlanjut menjadi, kalo gitu udah pernah naik gunung?

Iya. Ngehe' soalnya dari lahir sampai saya dapat pertanyaan itu, sekalipun saya belum pernah naik gunung dalam konteks mendaki. Bahkan kemah-kemahan pun saya belum pernah. Lantaran ga pernah jodoh sama pramuka. Masa dong pas kelas 3 di SD A ada kegiatan pramuka, cuma yang boleh ikutan kemah adalah murid kelas 4. Nah tahun depannya, saya pindah ke SD B. Udah ngarep banget ikut kemah, eh ternyata di SD B murid yang boleh ikutan kemah adalah mulai dari kelas 5. Giliran naik kelas 5, aku udah harus pindah lagi ke SD C. Apesnya malah di SD C malah sama sekali ga ada kegitan ekskul pramuka. Sedih.

Eh curcolnya jadi kepanjangan.

Tahun 2011 atau 2012-an lalu sempet pernah diajakin mbak Syam Matahari buat ke bromo, tapi saya nya ga bisa. Sayang sekali.

Jadi begitulah. Saya penyuka gunung yang bahkan tak pernah dapat menemui yang disukainya itu. *laaah malah curcol lagi* 

Namun berkat doa kalian dan semangat yang tak pernah putus untuk tetap bisa berkemah setidaknya sekali seumur hidup, setelah menantikan puluhan tahun, akhirnya saya mendapatkan kesempatan itu. Awalnya saya diajakin buat naik gunung lawu, namun karena liburannya agak panjang dan kebetulan pendakian semeru baru saja dibuka setelah sempat beberapa waktu ditutup, tujuan berubah jadi gunung semeru. Saya seneng banget pas ditawarin, itu artinya impian saya akan segera jadi nyata. Dan makin seneng lagi pas tau mas engineer unyu juga ikutan heuheu.

Temen yang ngajakin saya sempet kuatir lantaran saya baru pertama kali naik gunung. Dia berkali-kali nanya, kamu beneran jadi ikut? Ya aku jawab pastilah. Terus dia ceramah-ceramahin aku bahwa naik gunung tuh ga gampang. Harus semangat. Harus solid. Jangan gampang putus asa, yang penting mental jangan cemen dsb dsb. Panjang lebar dia kasih petuah. Saya juga kuatir banget sih. Cuma beda.

Saya kuatir ga bisa nemu toilet ahahah.
Dan bener aja. Di gunung emang ga ada toilet. Hiks.
Eh sudah cukup. Saya mau cerita perjalanan ke semeru dulu.

---

Tanggal 13 Mei 2015.

Total personil yang akan berangkat ada 7 orang.
1. Mas FR, temen sekantor yang nawarin saya ikut.
2. Mbak MT, temen sekantor yang membuat saya ditawarin ikut, supaya dia ada temen ceweknya.
3. Mas DW, temennya mas Feri.
4. Mas EU, Engineer Unyu, temen sekantor juga.
5. ER, yang saya ajakin ikut buat nambahin personil cewek, sekaligus dia pengalaman mendaki juga.
6. YS, sepupunya mas FR
7. Saya, kembarannya Raline Shah.

Hari itu saya berangkat kerja sambil langsung bawa peralatan dan perlengkapan untuk ke semeru. Rencananya sepulang kerja nanti kita langsung siap-siap dan berangkat malam itu juga menuju semeru.

Singkat cerita. Begitu jam 17.00 saya, EU, MT langsung menuju ke kos-an FR dan DW yang dijadikan meeting point. ER pulang dulu ambil perlengkapannya, karena toh kebetulan rumahnya dekat.

Suasana kamar kos yang seperti kapal pecah. LOL.

Kalian lihat ada yang pakai baju biru dan kerudung hitam dan cuma ngeliatin aja? Itu saya. Saya bukannya ndak ikut siap-siap, cuma tas saya udah ready karena emang isinya paling sedikit sendiri ahaha.

Acara packing ini ternyata cukup makan banyak waktu. Sekitar jam 22.00 kita baru berangkat dari kosan, dari rencana awal jam 21.00, itu juga masih harus mampir buat sewa matras dan sleeping bag. Kita berangkat naik mobilnya YS via Malang. Di Malang kita mampir sebentar buat makan malam, sekitar jam 01.00 dinihari, jadi makannya sambil agak-agak merem gitu. Kemudian sekitar jam 03.00 kita sampai di terminal Tumpang untuk sewa jeep.

Iya, dari terminal Tumpang kita udah ga dibolehin bawa mobil pribadi, karena medannya udah mulai menanjak banget. Kita sempat agak kesulitan disitu, lantaran jumlah orang kita tanggung banget. Terlalu banyak buat digabung, dan terlalu sedikit untuk berangkat sendiri. Namun setelah ngitung-ngitung budget dan berkat kakak-kakak dermawan yang mau nalangin dulu, kita putuskan naik jeep ber-7 itu. Kita pilih jeep tertutup yang muat 7 orang. Harga sewanya sekitar 400 ribuan. Kalau pakai jeep terbuka bisa lebih murah sebenernya,karena bisa muat 9 orang dengan harga yang sama, cuma ya itu, susah nyari 2 orang tambahannya. Kebanyakan rombongan lain minimal 4 orang, dan mereka pun ga mau dipisah. Takut ntar ga ketemu kali ya.

Jadilah kita berangkat bertujuh menuju Ranu Pani.

Ranu Pani pagi hari. Masih mistis.
Sampai disini perjalanan masih menyenangkan. Sewaktu masih di Tumpang, bahkan MT bilang "menyenangkan ya!". Aku sih setuju sampai disitu. Tapi hei, kita bahkan belum mendaki sama sekali!

Suasana liburan dan jalur pendakian yang memang baru dibuka bulan Mei itu ternyata memang membuat peminat pendakian semeru saat itu membludak. Apalagi ditambah efek dari film 5cm. Antrian registrasi pendakian di kantornya beuh...

Antrian registrasi

Udara disini udah dingin banget. Kalau napas udah bisa keluar uapnya kayak di film-film korea.
Sekitar jam 06.00 pagi kita udah sampai Ranu Pani, tapi kita ga langsung registrasi, karena nungguin temennya ER yang katanya bakal bantu ngurusin urusan registrasi. Namun setelah ditunggu beberapa jam, ternyata mereka ga dateng-dateng sehingga diputuskan kita registrasi sendiri. Eh lha kok pas kita udah registrasi, temen-temennya ER itu dateng. Mereka adalah mas Kombet, om Chui, mas HR dan RK Katanya mereka kesiangan karena kudu jemput salah satu dari mereka itu, aku lupa yang mana hahau.

Yaudah, jam 10.00 kita mulai pendakian. Temen-temennya ER ga ikutan, ntar nyusul katanya.

Tujuan selanjutnya adalah Ranu Kumbolo. Disitu baru nanti kita bisa bikin tenda. Di jalur antara Ranu Pani dan Ranu Kumbolo ada 4 pos peristirahatan.

Ranu Pani - Pos 1 : Masih santai. Napas saya masih setengah lari. Masih nanya, "Ini udah pos 1 ya?".
Kita ber-7 masih berjalan beriringan.

Pos 1 - Pos 2 : Agak mulai mendaki sedikit. Napas masih tetap setengah lari. Tapi pertanyaan udah mulai berubah jadi, "Masih ada berapa pos lagi yang kayak gini?"
Temen-temen udah mulai becanda, "Ngapain sih kita liburan malah nyusahin diri kayak gini? Mending dirumah, makan, tidur, santai-santai".
Dan aku mulai berpikir iya juga ya..LOL
Kelompok mulai terpecah. Antara yang jalannya cepet dan yang jalannya lambat. Saya? Jelas di kelompok yang lambat.

Pos 2- Pos 3 : Mendakinya mulai serius. Napas udah lari-larian. Setiap 50 meter berhenti buat ambil napas. Mulai mikir, "Ini masih jauh ya? Bakal lebih mendaki lagi ya? Ini kalau minta pulang boleh ga ya? Bisa minta helikopter buat jemput ga?"
Kelompok udah mulai kocar-kacir. Ada yang cepet, tengah, sama belakang. Saya? Kali ini yang di tengah, karena yang belakang sendiri adalah mereka yang bawaannya paling berat.

Pos 3 - Pos 4 : "Gilaaaaaa...itu tanjakan apa tanjakan?!?!?! Ya Allah kirimin helikopter buat pulang~"
Serius. dari pos 3 ngeliat jalur pendakian menuju pos 4 rasanya pengen nangis gulung-gulung trus ngegelinding sampai Ranu Pani. Agak serem-serem gimana gitu curamnya.
Temen-Temen udah mulai kasih semangat, katanya tenaangg, sehabis pos 4 nanti jalannya udah mulai menurun kok..
Napas? Udah jatuh bangun deh. Setiap 15 meter berhenti, buat ambil napas.
Disini kita mulai ketemu rombongan temennya ER tadi. Kalian tahu apa yang bikin gemes? Kita tadi kan berangkat jam 10.00, eh mereka berangkat jam 12.00 lebih malah nyampe pos 3 lebih dulu dari pada kita. Pelanggaran! Ini Pelanggaran!! *dikeplak*
Yahhh mereka emang udah biasa mendaki sih, dan udah terlatih juga naik semeru, orang lumajang situ..bukan tandingan saya lah yang jelas.

Pos 4 - Ranu Kumbolo : Udah bukan napasnya lagi yang lari, tapi jalannya hehe.

Rata-rata perjalanan dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo hanya makan waktu 4-5 jam. Namun berkat saya yang jalannya lambat dan nyusahin, rombongan kami menghabiskan 7-8 jam baru bisa kumpul semua. Menjelang maghrib kita ber-11 (digabung dengan rombongan mas kombet, om chui, mas HR dan RK) mulai mendirikan tenda, agak sulit sih, karena keadaan sudah mulai gelap ditambah semua tempat penuh, hampir ga ada lahan untuk mendirikan tenda dengan posisi yang strategis dan nyaman. Total kita bikin 3 tenda. 2 untuk cowok dan 1 untuk cewek.

Ada yang agak ironis disini. Dari keseluruhan rombongan ada 3 orang cewek, tapi yang masakin kita semua justru mas HR wkwk. Saya bukannya ga bisa masak sih, cuma kan agak kurang familiar ya sama peralatannya #alibi

Yaudah, sehabis makan kita semua langsung tidur. Saya sih pules gara-gara kecapean, paling bangun karena kedinginan.


Tanggal 14 Mei 2015

Pagi-pagi kita bangun. Mas HR langsung rempong lagi nyiapin sarapan buat kita. Sebagian dari kita bikin kopi dan semacam itu, sebagian lainnya foto-foto. Saya ikut golongan yang terakhir.

Sunrise Ranu Kumbolo
Selesai sarapan kita langsung packing-packing lagi, persiapan untuk berangkat ke destinasi berikutnya, Kalimati.

Sayangnya ga semua berangkat. MT katanya dilep, kedatangan tamu yang tak diundang. YS juga katanya perutnya sakit, gara-gara makan malem di Malang itu. Masa dong dia pesen Nasi Sambelan cabe 25. Lalu karena 2 orang sakit, 2 orang lainnya mas DW dan mas FR ikut tinggal juga buat jagain mereka. Sehingga yang berangkat menuju Kalimati ada EU, aku, RK, ER, mas Kombet, mas HR dan om Chui. 7 orang.

Sekitar jam 10.00 kita berangkat. Tantangan pertama menuju Kalimati ini adalah Tanjakan Cinta. Konon jika kita menaiki tanjakan ini sambil memikirkan orang yang kita cintai tanpa menoleh ke belakang sedikitpun, niscaya kita akan berjodoh dengan orang yang kita pikirkan itu. Cuma ya itu, tanjakannya curam menn...

Awal-awal sih, saya sok-sokan mau ikutan cerita konon itu, cuma habis itu bingung mau mikirin gebetan yang mana. Selagi bingung memilih sambil jalan, rupanya jalannya makin lama makin terjal. Makin lama napas makin abis. Makin lama makin persetan lah dengan konon-kononan itu. Napas aja udah susah pake bingung mikir gebetan pula. Apalah banget.

Serius. Tanjakan cinta ini ujian banget. Begitu sampai atas saya langsung nyari tempat duduk dan bertekad bulat untuk balik ke Ranu Kumbolo. Saya udah sempet bilang ke ER, sebelum dia kemudian menyusul yang lain di depan, kalau saya batal ikut ke Kalimati. Saya sudah membayangkan akan menghabiskan beberapa jam ke depan buat duduk-duduk di atas tanjakan cinta merayakan keberhasilan saya menaikinya sambil menikmati pemandangan dan kemudian kembali turun ke Ranu Kumbolo dan bersantai menunggu mereka kembali.

Namun kemudian EU datang memanggil, ngajakin kumpul di bagian agak atas dari tanjakan cinta supaya terus kemudian lanjut jalan bareng. Saya udah mau nolak dan bilang batal ikut ke Kalimati, tapi ajakan engineer unyu emang sulit ditolak, dan saya pun berdiri, jalan lagi. Sial. Saya lemah sama yang unyu-unyu.

Singkat cerita, setelah beristirahat sebentar, kita jalan lagi melewati oro-oro ombo dan ayek-ayek lalu melewati cemoro sewu sampai akhirnya sampai di Jambangan.

 Foto paling favorit

Rute dari Ranu Kumbolo sampai Jambangan lumayan mendaki. Lumayan disini artinya saya tiap 10 meter berhenti buat ambil napas. Mas HR, mas Kombet dan om Chui yang nemenin saya aja sampe ikut kelenger. Perjalanan mendaki kayak begini kan sama kayak lari marathon ga boleh sering-sering berhenti, ntar malah bikin capek.Apalagi mereka bawa beban yang jauh lebih berat pula. Tapi apalah daya, kaki masih bisa tahan tapi napasku udah hilang tiada. Aku sempet minta mereka jalan duluan sih, toh jalurnya ramai dan jalan setapak, insya Allah aku ga nyasar lah, tapi mereka ga mau. Khawatir aku ilang atau pingsan sih rasanya, ini kan pendakian pertamaku. Sementara RK, EU dan ER yang adalah 3 personel paling muda udah jalan duluan dari tadi.

Sekitar jam 5 sore kita sampai Kalimati dan langsung bikin tenda trus masak. Rencananya jam 10 malem nanti bakal langsung naik ke puncak. Kali ini saya serius ga ikutan. Dan emang engineer unyu ga ngajakin juga sih haha. Tapi emang ga kebayang kalau harus naik ke puncak malam itu juga. Rasanya saya ga akan mampu. Takut nyusahin yang lain. Perjalanan ke Kalimati yang harusnya cuma 4 jam, jadi molor lagi gara-gara aku yang jalannya lambat.

Setelah makan malam kita tidur trus jam 11 malem bangun, ternyata kita keenakan tidur sampe kemaleman dari rencana awal jam 10. Yang mau naik ke puncak langsung siap-siap. Yang ga ikut kayaknya cuma aku sama mas HR deh, aku ga seberapa ngeh lantaran masih ngantuk banget hehehh. Ohiya, mas FR juga nyusulin buat ikutan naik ke puncak. Handal loh dia, Ranu Kumbolo - Kalimati cuma makan waktu 3 jam, emang sih bawaannya ga banyak, tapi kan..aku tetep 7 jam walau bawaannya lebih sedikit, hiks.

Begitu mereka berangkat, aku langsung tidur lagi. Ehh lha kok sekitar jam 1 dinihari, mereka yang naik ke puncak balik lagi. Katanya jalanan menuju mahameru macet saking ramainya, kalah puncak di Bogor, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk balik aja dan ga usah naik ke puncak. Yaudah akhirnya kita lanjut tidur lagi sampai pagi.


15 Mei 2015 & 16 Mei 2015

Bangun pagi sambil nungguin mas HR masak kita foto-foto dong, rencananya abis sarapan kita beres-beres trus balik ke Ranu Kumbolo. Namun takdir berkata beda.

Sewaktu lagi foto-foto dan nongkrong-nongkrong, kita ngobrol sama seorang perempuan. Keliatannya udah agak tante-tante sih, sekitar umur pertengahan 30-an gitu. Kita kan cerita kalau ga jadi ke puncak lantaran macet, trus dia balik cerita kalau semalem emang pendakian ke puncak ramai banget. Temen dia sampai ada yang ga kuat dan dibantuin orang-orang. Tapi trus dia cerita, syukurnya dia berhasil sampai puncak. Kejadian ini terjadi sekitar jam 7 atau 8 pagi.

Cowok-cowok yang batal naik ke puncak semalem langsung blingsatan. Mereka ga mau kalah sama tante-tante. Emang sih kata para pendaki, tujuan pendaki yang sebenarnya adalah pulang kembali ke rumah dalam keadaan selamat, puncak hanyalah bonus. Mereka sudah berusaha menghibur diri pakai itu, tapi tetep aja mereka ga terima. Kalau tante-tante aja bisa ke puncak dan kembali lagi hanya dalam waktu hanya 6-7 jam, kenapa mereka ga bisa?

Sehingga kemudian diputuskan nanti malam kita akan naik ke puncak. Rencana pulang yang awalnya bakal nginep dulu di Ranu Kumbolo lagi dibatalkan, menjadi di Kalimati. Sehingga besok sehabis dari puncak, kita langsung harus turun ke Ranu Kumbolo lanjut Ranu Pani tanpa nge-camp lagi.

Saya? Yang udah istirahat seharian, ngerasa fine-fine aja dengan rencana itu. Malahan aku mau ikut ke puncak juga. Lupa kalo bakal ngrepotin orang.

Sekitar jam 12 malam kita ber-7 berangkat menuju ke puncak mahameru. Mas HR stay buat jaga tenda. Tadinya tenda mau ditinggal gitu aja, tapi lantaran Kalimati masih agak ramai, jadi agak khawatir juga.

Pas keluar tenda malam itu langitnya bagus banget. Itu langit dengan bintang paling banyak yang pernah aku lihat dengan mata kepala ku sendiri. Tapi dinginnya bukan main. Waktu mau pakai sendal, aku heran ngeliat sendalku kerlap-kerlip, eh ternyata itu gara-gara diselimutin es. Trus aku keluar, ternyata tendanya juga diselimutin es, sampe bisa aku garuk malah. Kemudian aku dipinjemin jaket sama engineer unyu :3

Perjalanan ke puncak ternyata ga semudah yang aku bayangkan. Tanjakannya bahkan jauh lebih berat dari tanjakan cinta. Tanjakan cinta mah cuma seiprit, lah ini sepanjang jalan dari awal sampai akhir nanjak terus, sama sekali ga ada turunan. Yaiyalah yen namanya juga rute ke puncak, mana ada puncak di bawah. Untung ada mas Kombet yang setia menemani dan membantu ngegeret aku ke atas. Serius. Om Chui juga bantuin narik aku pake tali. Beneran berasa kayak ember semennya tukang bangunan deh, pake dikerek segala.

Kebetulan waktu itu ada kelompok pecinta alam lain yang salah satu anggotanya dikerek juga, gara-garanya si mbaknya sampai sesak napas sih, sampai butuh oksigen gitu. Nah waktu si mbak dikerek, mas yang pegang tali ngasih aku juga, jadinya dibantuin dikerek mas itu juga. Tau lah siapa, tapi terima kasih banget.

Sungguh aku banyak ngerepotin orang banget terutama mas Kombet dan om Chui, karena mereka yang bener-bener nemenin sampai puncak. Dari perjalanan ke puncak yang harusnya cuma 6-7 jam bolak-balik, sama aku jadi sekitar 14 jam. Berangkat jam 12. Sampai Puncak jam 10.00. Trus balik ke tenda Kalimati sekitar jam 2 siang. Beruntung waktu itu udara cerah, sehingga aku bisa tetep naik ke puncak walau udah jam 10.oo siang. Normalnya jam segitu kita udah harus turun, lantaran cuaca sudah bisa berubah ekstrim dan arah angin bisa berubah ke arah sebaliknya dan menyebabkan asap dari kawah menutupi jalan pulang dan kamu bisa tersesat dan tak tahu arah jalan pulang #tsahhh

Sementara RK, EU dan ER? RK dan EU udah sampai puncak sejak jam 6 pagi. Palingan jam 8 udah sampai tenda. Kalau ER duluan balik ke tenda lantaran ditinggalin sama RK dan EU. Udah diajakin naik sama mas kombet, aku dan om chui, tapi dianya ga mau. Mungkin dia tahu bakal lama kalau ke puncak bareng aku haha. Atau mungkin dia ngambek karena ditinggalin.

Eh tapi aku juga ditinggalin loh sama si engineer unyu. Dia kan minta tukeran headlamp sama aku pas berangkat mendaki semalem, punya dia redup, punya aku terang, katanya dia nerangin jalan aku nanti dari belakang. Tapi buktinya apa, dia malah jalan duluan di depan dan aku ditinggalin. Hhhhh.

Eh tapi dia udah baik minjemin aku jaket sih. Trus barang-barang aku juga dibawain. Duh aku lemah.

Kembali ke topik. Begitu kita sampai Kalimati, kita makan dulu trus langsung beresin tenda. Saya lemes banget setelah balik itu, sampai ga bisa bantuin buat beres-beres. Sungkan banget benernya, tapi gimana, ga kuat lagi. Aku sempet muntah sih, dikit. Mungkin masuk angin gara-gara belum makan sejak malem sampai sekitar jam 2 siang gitu, dan dalam kondisi badan diforsir juga. Jadi cuma bisa beresin barang-barang sendiri doang.

Trus begitu tenda beres, sekitar jam 4 sore, kita langsung berangkat ke Ranu Kumbolo. tidak lupa foto dulu.



Sampai Ranu Kumbolo sekitar maghrib. Temen-temen kita yang stay di Ranu Kumbolo rupanya udah ga ada. Sepertinya mas FR yang udah turun duluan nyuruh mereka turun ke Ranu Pani. Kita kelamaan, jadinya mending mereka turun dulu daripada jalan pas gelap. Cih kita, yang kelamaan mah elu doang yen.

Jadi sehabis maghrib, kita langsung jalan lagi menuju Ranu Pani. Tancap gas, di setiap pos kita cuma istirahat bentar, paling 10-15 menit dan langsung jalan lagi. Sayangnya pas udah sampai pos 2 kakinya RK sakit, jadi butuh istirahat agak banyak dulu. Tadinya kita juga pengen nungguin RK, tapi kita kepikiran temen yang udah di Ranu Pani juga, takut mereka khawatir dan itu kan rombongan yang dari Surabaya yang bawa mobil. Nah kalo kita ditinggalin gimana? Meskipun yakin bakal ditungguin tapi kan ga enak kalau harus bikin semuanya bolos kerja. Situasinya waktu itu, besok paginya udah hari kerja.

Akhirnya diputuskan rombongan Surabaya lanjut jalan dan rombongan Lumajang nungguin RK

Rombongan Surabaya jadi tinggal aku, EU dan ER. Formasinya jadi ER di depan sebagai penunjuk jalan. EU di belakang ngasih aku lampu, hehe akhirnya dikasih lampu juga sih seperti yang dia bilang. Trus aku di tengah, biar ga ketinggalan.
Sekita jam 12 malem kita sampai Ranu Pani. Temen yang nungguin udah sampe tidur-tidur. Kita langsung nyari sewa jeep dan berangkat ke terminal Tumpang buat ambil mobil. Aku begitu naik jeep langsung tidur. Capek gilak. Ga tau deh, kayaknya itu sampai mangap-mangap mungkin. 

Sampai terminal Tumpang, rehat sebentar dan tidak lupa beli oleh-oleh titipan mbapit, setelah itu berangkat lagi dan aku tidur lagi sampai Surabaya jam 5 subuh. Udah ga ngerti apa-apa itu akunya. Bangun-bangun langsung ke parkiran kantor ambil motor, trus pulang.

Di rumah, niatnya mah tidur 5 menit, ehhh lah kok bangunnya jam 10 siang LOL. Syukurlah Supervisor ku baik hati, aku dibolehin masuk jam 12.

---

Satu hal yang harus kalian ingat saat naik ke puncak mahameru, jangan sekali-sekali naik menggunakan sendal, pokoknya jangan. Pakailah sepatu. Ini kesalahan besar yang aku lakukan waktu naik ke puncak. Padahal udah disuruh pakai sepatu, sampai dipinjemin punya RK segala lantaran aku ga bawa, tapi kan kegedean, mana enak dipake jalan coba..

Sebelum berangkat aku sempet tanya ke ER apa naik ke semeru harus pakai sepatu? Dia bilang engga, ya aku percaya, malah dia bilang juga pernah ke puncak pake sendal. Jadilah makanya aku cuma beli sendal. Mungkin dikiranya aku ga bakal naik ke puncak apa ya..entahlah.

Tapi percayalah, jangan pake sendal, walaupun saya sendiri, dan ER juga mungkin, pernah ke puncak pake sendal, pokoknya jangan. Tiap jalan 5 langkah kamu bakal diribetin sama batu-batu yang nyangkut di sendal soalnya. Sakit menn.. 

---


Terima kasih untuk semua yang sudah membantu perjalanan saya ke puncak mahameru ini. Yang tidak bantuannya sampai tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Saya harap sih kalian ga kapok ngajak jalan, tapi saya yakin kalian kapok ahaha. It's ok. Saya ngerti kok.


---


Jadi kalau sekarang saya ditanya lagi, kamu lebih suka gunung atau pantai yen?


*memandang warna lengan yang sampai saat ini masih belang*
*inget kaki yang njarem sampe sebulan*
*inget tumit yang kadang masih suka sakit kalo dipake banyak jalan*
*inget bintang-bintang di langit waktu itu*
*inget kamu*


Saya lebih suka gunung.







tapi bisa ga dikasih toilet yang nyaman gitu? Ehehehe

Harusnya sih "THANK GOD, WE MADE IT"