MAMA

Sebenarnya saya mau membuat tulisan ini menjadi tulisan yang megah, indah dan penuh makna untuk beliau, tapi berhubung yang nulis adalah cuma penulis payah seperti saya, mungkin itu akan sulit diwujudkan.

Tulisan ini saya persembahkan untuk Ibu saya, biasa saya panggil mama, yang meninggal tanggal 5 Juli 2016, tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Beliau lahir pada tanggal 11 November 1963 di Kota Palembang dari Ayah seorang pedagang dan Ibu seorang guru. Namun kedua orang tuanya berpisah saat usia mama masih sangat muda, sehingga pada usia 2 atau 3 tahun ibunya menikah kembali dengan seorang tukang masak (koki) masakan Padang. Beberapa tahun kemudian, saat ibunya sedang mengandung anak ke-3 dari Ayah tirinya, mereka sekeluarga pindah ke Surabaya. Ayah tirinya kemudian menjadi tukang masak no. 1 di rumah makan masakan Padang ternama di Surabaya pada masa itu.

Mama kemudian tumbuh remaja bersama 2 kakak laki-laki yang dibawa Ayah tirinya dari pernikahan sebelumnya dan 3 orang adik, 2 perempuan dan 1 laki-laki, dari pernikahan ibu kandung dan Ayah tirinya.

Menginjak kelas 3 SMA beliau kemudian memutuskan untuk menikah dengan gurunya sewaktu SMP dulu, orang inilah yang kemudian menjadi bapak saya, dan aku memanggilnya papa.

Berbeda dari prasangkaan banyak orang, mama menikah di usia yang sangat muda, bahkan saat masih sekolah, bukanlah karena hamil duluan atau dipaksa orang tua macam Siti Nurbaya. Namun apa alasan pastinya saya juga kurang tahu, kemungkinan besar adalah karena mama ingin segera dapat hidup sendiri tanpa merepotkan orang tua lagi.

Iya, mama adalah orang yang tidak suka merepotkan orang lain. Mungkin itu sebabnya yang kemudian juga membuat beliau menjadi orang yang serba bisa. Beliau orang paling serba bisa yang saya kenal. Beliau bisa masak aneka masakan, mulai dari masakan padang, masakan jawa dan aneka masakan nusantara dan masakan untuk acara-acara spesial lainnya. Beliau juga bisa menjahit, dulu setiap kali lebaran saya akan dijahitkan beberapa baju yang kadang lucu kadang eksentrik.

Kehidupan mama memang tidak se-menderita orang-orang yang biasa muncul di acara reality show, tapi bisa saya katakan kehidupan mama penuh dengan pengorbanan dan perjuangan yang tidak mudah. 

Mama di mata saya, adalah orang yang sabar. Beliau juga lucu dan berpandangan terbuka.

Kepergian beliau adalah suatu kehilangan besar, mungkin yang terbesar sepanjang hidup saya sampai saat ini.

Satu hal yang paling menyesakkan dari kepergian beliau adalah bahwa saya belum cukup melakukan banyak hal untuk membahagiakan beliau, malah mungkin justru saya banyak membebani dan menyakiti beliau, baik fisik maupun pikiran.  

Seusai pemakaman, ada seseorang yang mencoba menghibur dengan mengatakan, sudah jangan sedih dan ditangisi paling tidak kan kalian sudah merawatnya saat sakitnya sebelum meninggal. Dan saya seperti pengen nyolot, merawat apaan semua itu masih belum cukup baik dibanding perawatan yang beliau berikan kepada kami! Bagaimana kami bisa berhenti bersedih dan menganggap semuanya seakan sudah impas. Tidak. Tidak bisa. Bahkan sampai terakhir sebelum beliau jatuh sakit, beliau masih menyuapi saya sarapan dengan telaten karena saya buru-buru, sedang saya menyuapi beliau seringkali dengan ogah-ogahan saat beliau sakit. Saya tidak terima!

Semalam saya mengganti sprei kasur tempat kami biasanya tidur bersama, baru saya sadari, ternyata sprei dan sarung bantal yang kami miliki sudah sangat usang, ternyata memberikan kebahagiaan sesederhana membelikan sprei baru saat beliau masih hidup pun saya tidak mampu.

Lalu saya teringat mimpi yang saya dapat beberapa waktu sebelum beliau meninggal. Dalam mimpi itu beliau meminta saya untuk mengantarkannya pulang, dan saya seperti biasa selalu ogah-ogahan dengan alasan masih capek. Sial, bahkan dalam mimpi pun saya gagal membahagiakan beliau.

Dasar bodoh kamu yen.

Ternyata benar daripada disebut tulisan yang megah dan penuh makna, entry ini jadi lebih seperti catatan penyesalan saya. Sekarang satu-satunya keinginan saya untuk beliau adalah agar beliau dapat bahagia setelah kematiannya. Bahagia sebahagia-bahagianya. Bila perlu akan saya bagi jatah bahagia saya kelak jika saya memilikinya, karena mungkin itupun masih akan kurang.

Kau tahu, yang paling menakutkan di dunia ini bukanlah kematian, melainkan penyesalan.

Leave a Reply